SUKACITA

164

Romo Albertus Herwanta, O. Carm

Tatkala mengalami sukacita, orang biasanya berbagi dengan sesamanya. Budaya syukuran atas tercapainya prestasi atau momen penting kehidupan seperti pernikahan menjadi contoh nyata atas “sharing” itu. Lebih dari itu, sukacita menjadi bagian dari kebutuhan hidup yang dapat dimohon kepada Tuhan.

Ternyata, sukacita itu terjadi baik di dunia ini maupun di surga. Meski demikian sifat dan alasannya berbeda. Sukacita dunia bersifat sementara dan lewat dengan cepat. Sedangkan sukacita di surga baka. Para malaikat pun menikmatinya.

Manusia bersukacita di dunia ini antara lain ketika mengalami sukses, bertemu teman lama yang dirindukan, bersua dengan kekasih hati. Karena semua alasan itu bersifat sementara, demikian pun sukacitanya. Berbeda dari alasan terjadinya sukacita di surga. Sang Guru Kehidupan bersabda, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15: 10).

Bisa dipahami bahwa seluruh karya Sang Guru berangkat dari dan selalu dijiwai dengan seruan untuk bertobat. Di awal karya-Nya di muka umum Dia berseru, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1: 15). Undangan itu disampaikan kepada semua orang. Tujuannya agar orang kembali kepada Allah dan mengalami sukacita.

Misi dan karya-Nya menegaskan bahwa kejahatan dan perilaku buruk manusia bukan alasan untuk membinasakannya. Sebaliknya, itu menjadi alasan mendasar bagi Allah untuk menyelamatkannya.

Berapa orang yang menghadapi orang jahat tanpa rasa benci dan ingin menyingkirkan atau menghabisi? Bukankah masyarakat pada umumnya ingin menghukum yang dianggap menyimpang dan berdosa seperti kaum LGBT? Bukankah seruan Paus Fransiskus supaya mereka ini secara hukum dilindungi membuat geram banyak orang, termasuk sebagian pemuka agama?

BACA JUGA:  Mengandalkan Tuhan Saat Menghadapi Masa Pandemi Covid-19

Sang Guru Kehidupan memang sering makan dan minum alias bersukacita bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9: 10; Luk 19: 5-10). Andaikata Sang Guru datang ke dunia saat ini, apakah tidak akan makan-minum bersama kaum LGBT? Kalau tidak, Dia gagal membuat di surga ada banyak sukacita.

Malang, 5  November 2020

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here