Pastor Yoppi Sumakud MSC, Mencintai Maluku Hingga Terluka

1007

Jakarta, TEMPUSDEI.ID (15/10) – Pastor Yoppi Sumakud telah tiada. Rabu, 14 Oktober 2020, pukul 22.30 WIB ia mengembuskan nafas terakhirnya di Biara MSC Provinsialat, Jakarta. Tak ada yang menyangka begitu cepat ia pergi. Kemarin, seharian ia tampak sehat. Seperti biasa, setiap pagi ia yang duduk di kursi roda, setia berjemur di bawa terpaan hangat matahari di komplek Provinsialat MSC. Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB ia bermain basket ditemani  perawat.Walau hanya duduk di kursi roda, namun lemparan bola selalu masuk keranjang basket. Sampai pukul 20.00 ia masih mondar-mandir dengan kursi roda, walau wajahnya tegang. Di tempat tidur, ia minta kakinya diurut agar cepat tidur. Lalu, ia pun tertidur, namun ia tidak bangun lagi. Pastor Yoppi telah pergi selamanya.

Pastor Yoppi bersama para konfraternya

Sudah beberapa tahun, Pastor Yoppi harus hidup dengan kursi roda. Berawal (2017) ketika masih sebagai Pastor Paroki Maria Bintang Laut, Ambon, lututnya bermasalah. Dia dibawa ke Surabaya dan operasi di sana. Ia sembuh. Dua hari sebelum balik ke Ambon, ia terserang stroke dan harus terus dirawat. Merasa kesehatannya agak membaik, ia terbang ke Ambon. Walau harus berkursi roda, Pastor Yoppi tetap memimpin paroki itu. Sayang, suaranya sudah tidak jelas terdengar lagi saat berkhotbah. Melihat kondisinya, keuskupan mengistirahatkan dia dari pekerjaan parokial.

Walau terasa berat, Pastor Yoppi harus beristirahat di Biara MSC Langgur. Rupanya, penyakitnya masih terus kambuh sehingga diberangkatkan ke Jakarta. Ia rindu pulang ke Ambon. Apa daya Tuhan memanggilnya pada Rabu, 14 Oktober 2020, pukul 22.30 WIB.

Pastor Linus Yoppi Sumakud MSC lahir di Pare-pare, Makassar, 23 September 954. Ia anak ketiga dari 6 bersaudara. Setamat SD (1966), ia masuk Seminarium Xaverianum, Kakaskasen, Tomohon. Studi di Sekolah Tinggi Seminari Pineleng, 1974-1981. Ia memilih masuk Kongregasi MSC dan berkaul kekal pada 1 November 1982. Pada 25 Januari 1983, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr Theodorus Moors MSC, di Manado. Sejak 1983 ia berkarya di Keuskupan Amboina (Kei, Aru, Ambon) hingga meninggal.

BACA JUGA:  Pasien Covid-19 Sembuh, drg. Aloysius Giyai, M. Kes: Pelayanan Tulus, Hati Gembira dan Kepatuhan Pasien adalah Penyembuh

Pada 13 September 1985, saat menjabat sebagai Pastor Paroki Ohoidertutu, Kei, Pastor Yoppi mengalami musibah saat perahu motor mereka tenggelam di pertengahan antara Pulau Kei Kecil dan Pulau Tanimbar Kei. Puluhan umat meninggal. PastorYoppi diselamatkan oleh bapak Saban Rahanmitu. Bersama puluhan umat Stasi Somlain, Pastor Yoppi berangkat menuju Pulau Tanimbar Kei untuk upacara pernikahan dan sebagai visitasi rutin. Baru lima keluarga yang beragama Katolik. Saat perahu-perahu penuh dengan umat itu (60 orang) bertolak tak terlihat laut bergelombang. Ketika tepat berada di tengah laut, angin dan gelombang menghantam. Orang-orang berteriak. Gelombang pun menenggelamkan perahu-perahu itu. Pastor Yoppi pasrah. Ia tak tahu berenang. Tangannya menggenggam erat sibori yang berisi hosti kudus. Beberapa lelaki mencoba menyelamatkan dia, namun mereka dipisahkan oleh gelombang dan angin kencang. Bapak Saban Rahanmetu berupaya keras menggendong Pastor Yoppi, walau ia rela melepaskan sanak saudaranya hanyut terbawa arus. Keesokan hari, 14 September 1985, Pastor Yoppi ditemukan hidup, bersama 10 orang lainnya. Namun ia trauma mendengar puluhan umatnya hilang ditelan ombak. Berhari-hari tubuhnya diikat pada tempat tidur Rumah Sakit Katolik Langgur agar tak sampai bunuh diri. Kaum biarawan-biarawati serta tokoh umat datang menghibur, namun ia tetap gelisah dan memberontak. Yoppi tak pernah bisa menceritakan peristiwa itu kepada siapa pun. Menanyakan hal itu padanya, segera air matanya meleleh dan ia membisu dengan wajah termangu. Peristiwa itu membuat dirinya berkomitmen untuk berkarya di Maluku hingga akhir hidupnya.

Ketika Frater Mau Ikut Kejuaraan Tinju

Pastor Yoppi selalu ditemani para konfraternya.

Selanjutnya, PastorYoppi ditugaskan ke Dobo, Kepulauan Aru. Selain setia pada tugas-tugas pelayanan sakramental, ia juga rajin mengunjungi umat, termasuk umat di kampung dan pulau terpencil. Perjalanan laut itu mengandaikan mahir menghitung dan memprediksi cuaca. Laut Aru terkenal ganas. Di situ, pahlawan Yos Sudarso menemui ajalnya saat Trikora. Kemiskinan dan kekurangan sarana pendidikan dan kesehatan di Aru membuat Yoppi bekerja keras. Kala membuat pastoran di stasi-stasi, Pastor Yoppi tak segan masuk hutan dan mencari kayu untuk rumah pastoran. Fisiknya amat kuat. Ia bisa bekerja dari pagi hingga malam hari. Dengan fisik yang kokoh ini, saat berpastoral di Kei, Frater Yoppi Sumakud meminta izin dari pembimbing pastoralnya agar ikut kejuaraan tinju di Tual. Sang pastor kaget, mana mungkin seorang frater menjadi petinju. Hal itu dilakukan Yoppi saat ia melihat para petinju yang tampil dalam kejuaraan itu kurang bertenaga.

BACA JUGA:  Mukjizat di Katedral Makassar! Cosmas, Koster Selamat walau Jaraknya Hanya Satu Meter dari Bom

Saat masuk ke Paroki Maria Bintang Laut, Ambon (2001-2018), Pastor Yoppi bersiap membangun gedung gereja baru, karena gereja lama tak sanggup lagi menampung umat Katolik saat beribadah. Namun, rencana yang indah itu dihalangi oleh konflik sosial yang melanda Ambon dan Maluku. Terpaksa, gedung gereja itu dipakai untuk menampung para pengungsi, dari bermacam-macam golongan (Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Khongfutsu). Dengan sekuat tenaga, Pastor Yoppi dan umat memberi makan ratusan pengungsi selama berbulan-bulan. Saat situasi Ambon mulai kondusif, Yoppi mengutus kelompok paduan suara MBL mencari dana di Jakarta. Mereka bernyanyi dari paroki ke paroki, walau tak semua paroki rela menerima mereka. Ada yang menolak. Namun, Pastor Yoppi tetap membesarkan hati anak-anak parokinya. Saat ini bangunan paroki MBL telah berdiri megah. Tak hanya ia bergiat di pastoral parokial, namun juga ikut memberdayakan ekonomi umat lewat CU “Mario” di Paroki MBL.

Walau artikulasinya tak selalu jelas lagi, namun Pastor Yoppi masih aktif berkomunikasi dengan umatnya, di Ambon, Kei, dan Dobo. Ia rindu kembali ke Maluku dan ingin meninggal dan dimakamkan di sana, terutama di Desa Somlain, Kei Kecil, dan dikuburkan bersama mereka yang meninggal dalam kecelakaan laut, 1985 itu. Imam asal Desa Woloan, Tomohon, Sulawesi Utara ini sungguh mencintai umat Keuskupan Amboina. Pada wajahnya kita melihat seorang misionaris MSC yang mencintai hingga terluka. (Stef Tokan, JPIC MSC Indonesia).

Tempat Berkarya Pastor Yoppi Sumakud MSC

  • 1983 – 988 : Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus, Namar, Kei Kecil
  • 1985-1988 : Pastor Paroki Hati Kudus Yesus, Ohoidertutu, Kei Kecil
  • 1988-2001: Pastor Paroki Maria de Fatima, Dobo, Kepulauan Aru
  • 2001-2018: Pastor Paroki Maria Bintang Laut, Ambon.

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Kaka Stef, terima kasih. Artikel ttg sosok misionaris, P.Yoppy, yg begitu peduli dgn umat yg dilayaninya, personally, amat berkesan. Setahun persis Pater Yoppy mendampingi beta pung Tahun Pastoral di Dobo. Beta banyak belajar dari P.Yoppy pung kesaksian hidup. (Jorie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here