“Otak-otak Jumbo”, Blessing In Disguise di Balik Pandemi Korona

35
"Otak-otak Jumbo" karya Bu Sisca. Foto: ist

TIDAK seorang pun yang menyangkali akibat buruk dari merebaknya virus korona atau Covid-19. Umat sejagad raya telah dibuatnya sengsara, kelimpungan dan berduka cita. Kejam memang! Virus ini adalah makhluk renik, sekecil-kecilnya, namun sungguh mengguncang dunia.

Namun sebagai makhluk berakal budi dan ciptaan paling kreatif dan berjiwa inovatif, manusia tetap saja bisa melihat celah untuk bertahan hidup bahkan memelihara kehidupan.

Di dunia bisnis misalnya, banyak pengusaha baik kecil maupun menengah terpaksa gulung tikar atau setidaknya hanya bertahan dengan cadangan kekuatan, sambil menunggu si korona berlalu. Semua berharap, zat penangkal virus atau vaksin lekas ditemukan sehingga manusia bisa hidup aman sepeti sediakala.

Saat ini, untuk menghadapi virus mematikan ini, para ahli menganjurkan agar masyarakat secara ketat menaati protokol kesehatan sambil menjaga daya tahan tubuh dan pikiran. Ketaatan melakukan anjuran tersebut adalah upaya atau bukti konkret kita mencintai kehidupan dan tidak bersikap egoistis. Untuk kasus virus korona, ada dua kemungkinan yang sangat bisa terjadi: saya menulari atau saya tertulari. Dan jika penularan ini terjadi dan tidak terkendali, bukan hanya dia atau anda yang terancam mati, tetapi saya, mereka, kami terancam dan akhirnya dunia ini bersih dari makhluk bernama manusia. Ini pengandaian paling celaka sebagai akibat dari keabaian menaati anjuran tersebut. Tentu saja kita sangat tidak berharap demikian. Untuk itu kita perlu saling menjaga dengan sikap disiplin dan peduli.

Lahirnya “Otak-otak Jumbo”

Salah satu bukti bahwa virus korona tidak melulu membawa atau menebar ketakutan dan maut adalah makin banyaknya orang yang berusaha mengaktifkan daya kreasinya untuk menghasilkan produk-produk baru, atau setidaknya berusaha memberikan sentuhan baru pada produk yang lama agar diminati orang atau benilai ekonomi.

BACA JUGA:  Romo Aba "Ndeso": Kerinduan Orang Akan Ekaristi jadi Panggilan Allah untuk Saya jadi Imam

Sejak zaman dulu, khususnya untuk masyarakat di pesisir, mereka sudah sangat mengenal jenis makanan atau camilan yang terbuat dari ikan tenggiri. Pengolahan daging tenggiri itu dilakukan dengan mencincang daging ikan tenggiri, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang. Racikan ini menghasilkan makanan yang lezat dan mengandung gizi tinggi. Rasa makanan khas Palembang ini antara lain juga sangat ditentukan oleh bumbu yang racikannya di masing-masing daerah, berbeda-beda. Penggemar camilan itu pun sangat banyak. Sekadar informasi, walau bahannya bukan dari otak ikan, namun camilan disebut “otak-otak” karena teksturnya menyerupaki tekstur otak.

Adalah Sisca Susilo penggemar berat otak-otak. Ia mengonsumsi otak-otak selama bertahun-tahu, dan tidak pernah bosan. Sempat saja ia alpa makan otak-otak, rasa rindu dan keinginan untuk kembali makan otak-otak pun langsung menyeruak. Dan jika memungkinkan akan segera ia penuhi.

Agar cocok atau pas dengan seleranya dan keluarga, Sisca mencoba-coba meracik sendiri. Ternyata, keluarga menyukai, juga teman-temannya, sampai akhirnya ia menemukan formula yang paling cocok. Tentang pengakuan rasa “cocok” ini ia dapatkan setelah berkali-kali melakukan eksperimen dalam keluarga,  kepada tamu atau relasi yang datang ke rumahnya. “Mereka akui enak sekali dan suka. Saya memang pakai bahan yang asli dan bagus, mengolahnya dengan benar,” ujar Sisca kepada tempusdei.id.

Sekarang, sambil bertahan di tengah pandemi dalam mengurus perusahaan jasa perjalanan dan wisata miliknya JT PRATAMA, Sisca mengisi waktu dengan membuat otak-otak  dalam jumlah yang agak banyak atau sesuai dengan pesanan, dibantu oleh karyawannya di JT Pratama. “Lumayan banyak yang pesan. Dan Puji Tuhan, dapat endorse dari Tirta Lie,” ujar Sisca. Tirta Lie adalah pengusaha kuliner bakmi terkemuka saat ini.

BACA JUGA:  Jiwa Petarung Sang Lelaki Tua Penjual Abu Gosok

Sisca berharap, dengan “usaha cadangan” ini, dia tetap bertahan di tengah pandemi, dan tidak sampai mem-PHK karyawan-karyawannya. “Kasihan mereka. Mereka punya keluarga yang butuh biaya hidup, maka saya berusaha membuat alternatif usaha. Semoga mendatangkan berkat,” kata Sisca penuh harap. Jika usahanya ini berkembang dengan baik, maka layaklah disebut sebagai blessing in disguise atau rahmat terselubung di balik Covid-19.

Jika pembaca tempusdei.id berminat dengan otak-otak jumbo buatan Bu Sisca, silakan kontak nomor 087883235656 atau 081292115858. Anda pasti dilayani dengan gembira. (tD/EDL)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here