Salam Tangguh dari Romo Felix Supranta: Menyemai Pikiran yang Benar

58
Romo Felix Supranto, SS.CC. Foto: EDL

Oleh Romo Felix Supranta, SS.CC

Kekuatiran merupakan  buah dari pikiran yang pasif. Pikiran yang pasif adalah pikiran yang menyerah dengan keadaaan.

Kekuatiran terungkap dengan mengasihani diri sendiri.  Ketika kita kuatir, pikiran kita menerawang  tak terarah hanya mencari jawaban-jawaban atas asal-usul problema-problema kita  dengan pertanyaan, “Mengapa keadaan menimpa diri saya”, tanpa merencanakan  solusi.

Kekuatiran itu sangat melelahkan karena telah menguras  tenaga kita hanya untuk bergulat dengan pikiran “Mengapa atau Jika”.  Ada begitu banyak  situasi dalam hidup  ini yang tak dapat kita kendalikan.  Daripada menguatirkan banyak hal yang tak dapat kita kontrol, kita lebih  baik mengatasi kekuatiran itu sendiri agar tidak mengendalikan jiwa kita.

Kekuatiran itu tidak berguna, bahkan hanya meningkatkan stress. Kekuatiran itu akan memperparah persoalan-persoalan kita.

Kekuatiran dapat diatasi dengan  senantiasa  belajar untuk berpikir dengan benar dan terukur yang sering disebut dengan berpikir secara proporsional.

Berpikir yang benar berarti mencari solusi yang terbaik  dengan tetap percaya bahwa Allah akan menyelesaikan masalah kita.

Allah tidak menghendaki kita untuk hidup di bawah tekanan stress. Dia telah menyediakan jalan bagi kita untuk menyelesaikan perkara kita.

Allah menciptakan kita bukan untuk menjadi orang yang kuatir: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.  Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Karena  Ia telah meminta kita untuk tidak perlu kuatir, Dia pasti sudah memiliki cara untuk dapat mengatasinya.

Untuk mengatasi kekuatiran, kita hendaknya  memilih untuk  berpikir positif atas apa yang terjadi. Jika kita pasif di saat-saat yang sulit,  pikiran kita akan dipenuhi dengan kekuatiran, ketakutan, dan kegelisahan. Kita harus memilih menghindari stress dengan memutuskan bagaimana kita dapat memikirkan  solusi dengan dasar iman akan kemahakuasaan Allah: Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu” (Yohanes 14:1).

Kesimpulan  dari pembahasan kita ini: Sesaat saja  merasa kuatir jauh lebih melelahkan daripada satu hari  berpikir  keras untuk mencari jalan keluar atas masalah.  Salam tangguh!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here