Ebiet G. Ade dan “Nyanyian Suara Hati” di Tengah Pandemik

740

Oleh Emanuel Dapa Loka

Ebiet G. Ade: jengah dan sungkan. Foto: Ist

Judul Nyanyian Suara Hati di atas saya culik dari judul salah lagu Ebiet G. Ade, penyanyi legendaris milik Indonesia yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Melalui lagu tersebut pria bernama asli Ghoffar bin Aboe Dja’far itu hendak menarasikan kekagumannya pada mereka yang miskin, namun mulia karena hidupnya penuh syukur. Lagu ini populer pada tahun 1980-an.

Saya mendengarkan lagu tersebut sambil mengerjakan beberapa tugas kecil. Suara Ebiet yang sangat khas itu terasa menikam sangat dalam. Betapa tidak? Lagu tersebut menyeruak di saat amat melimpah orang yang tega melumpuhkan nuraninya lalu menampilkan perangai dan perilaku tamak. Mirisnya hal ini  mereka lakukan di atas penderitaan sesamanya yang menyabung nyawa di bawah kibasan sayap-sayap bengis virus korona yang sewaktu-waktu merenggut nyawa. Mereka tega menilep atau malah merampok jatah hidup sesamanya untuk perut dan nafsu sendiri. Sadis!

Bait pertama lagu tersebut langsung terasa menghantam jantung teramat tajam dan dalam. Ebiet dengan amat pandai mengartikulasikan batin mereka yang “dihakimi” sebagai orang miskin itu. Simak sejenak:

Seringkali aku merasa jengah dan sungkan/ bicara tentang saudara kita
yang terimpit derita kemiskinan
/ sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih terhormat di mata alam
/ Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih berharga di mata Tuhan

Lantas, di mana letak lebih berharga dan terhormatnya mereka? Persis pada martabat sebagai manusia, citra Allah yang mereka tetap rawat dan pertahankan.

Mereka memang terimpit oleh derita kemiskinan, namun mereka tidak sudi keluar dari impitan itu dengan cara mengorbankan martabat dan nurani mereka. Sementara itu, banyak orang berdaya yang menutup rapat-rapat telinga fisik dan telinga nuraninya atas bisikan lembut, namun tegas yang menyampaikan pesan bahwa aksi tercela yang mereka lakukan itu telah dan akan menelan banyak korban dalam aneka rupa. Camkan! Membuang sisa makanan saja, oleh Paus Fransiskus sudah dikategorikan sebagai tindakan merampas hak orang miskin, apalagi tindakan yang dilakukan secara sadar dan melahirkan penderitaan bagi banyak orang.

BACA JUGA:  BANYAK JALAN MENUJU SURGA

Ketika berjalan menyusuri kampung-kampung kumuh, rel kereta, atau melongok ke pinggiran kali, di sana terserak gambaran amat jelas tentang kemiskinan. Hidup mereka memang susah, namun masih bisa kita temui prinsip hidup yang teguh nan bermartabat.

Ojek sepeda: penuh syukur.

Di sinilah Ebiet mengaku merasa cemburu, dan mestinya kita semua cemburu olehnya. Memang, lapar anak mereka tidak pernah tuntas karena makanan yang selalu kurang, atau tidak ada. Namun keadaan ini tidak menjadi alasan bagi mereka menghancurkan martabat dan harga diri mereka. Padahal, kalau dilihat dari keterdesakan, alasan ekonomi, mereka bisa saja melakukan aksi-aksi kejahatan—meski ada juga yang terjerembab melakukan aksi-aksi itu.

Dalam obrolan ringan dengan seorang tukang ojek sepeda tua di Tanjung Priuk, terdengar pengakuan adanya ikhtiar untuk tidak pernah cemburu dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih indah, nyaman, serba enak, dan sebagainya. Dia juga tidak mau ambil pusing  walau menyaksikan di layar TV para koruptor mencuri uang rakyat dengan memanfaatkan kepandaian dan peluang untuk bersiasat. “Yang pasti, saya hanya mau makan dan minum dari keringat karena mengayuh sepeda ini. Rasanya mantap makan dari kerja berkeringat ini. Gak usah nuntut berlebihan. Bersyukur saja,” ujarnya sambil menyeka keringatnya dengan handuk putih yang sudah berubah warna menjadi nyaris hitam.

Inilah orang yang menurut Ebiet lebih kaya daripada mereka yang tampak sebagai the have karena bermobil mewah, menyembulkan aroma wangi bersumber dari parfum mahal, berpendidikan tinggi, pandai bicara, tampak sopan, namun berkelakuan maling.

Simak lagi:

Maka sesungguhnya mereka lebih kaya/ meskipun tanpa harta/ maka sesungguhnya mereka lebih bahagia/ dapat mensyukuri yang dimiliki

Terima kasih, Mas Ebiet. Engkau telah mengingatkan kami tentang nilai teramat berharga dalam diri mereka yang di mata manusia dipandang kecil, miskin, dan tak berharga.

BACA JUGA:  Kembangkan Bakat dan Kemampuan

Hal yang sama dikau ingatkan dalam lagu Nasihat Pengemis Tua untuk Istrinya. Di sana tersua sepenggal petuah amat sederhana, namun sangat bertenaga itu:

Tuhan, selamatkan istri dan anakku/ hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki/ kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan.

Mari dengarkan suara hati kita, jangan ingkari!

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here