Sulitnya Menjadi “Nabi Kecil” di Tempat Kerja!

49
Suap sebagai jalan pintas
Anthony Dio Martin

Oleh Anthony Dio Martin

“Silakan terima amplop dari kami, Pak!”. Lalu, si pimpinan vendor itu melanjutkan, “Jangan kuatir, kami bukan menyuap Bapak. Ini sudah tradisi kami, dan kami berikan karena Bapak telah memilih kami. Ya, bagi-bagi rezeki. Lain kali, kalau ada proyek lagi, ingat kami, ya Pak”. Begitulah Fendy bagian purchasing itu tiba-tiba disodori sebuah amplop oleh salah satu vendor mereka.

Di lain waktu, seorang bagian purchasing perusahaan BUMN menghubungi seorang pemilik bisnis, “Kami harus jujur Pak. Kami ingin memilih perusahaan Bapak jadi supplier kami. Tapi, kami meminta jatah 30% dari anggaran yang Bapak terima. Maklumlah Pak, di sini banyak orang yang harus kami bagi-bagi. Bagaimana? Kalau setuju, kami usahakan untuk menggunakan perusahaan Bapak sebagai supplier untuk kami.”

Ada lagi kasus begini. Salah seorang di bagian HRD merasa sakit hati, lantas apa yang dilakukannya? Semua biaya insentif untuk teman-temannya di bagian HRD dinaikkan. Akibatnya, tunjangan gaji dan insentif menjadi jauh lebih banyak daripada yang seharusnya diterima. Sewaktu Bimo mempertanyakan angka yang menurutnya tidak sesuai dengan waktu insentif yang seharusnya ia terima, temannya bilang, “Udahlah diam aja. Udah dikasih uang banyak, kok masih protes!”

Bayangkanlah! Betapa sulitnya bersikap etis dalam situasi-situasi seperti itu. Malahan, tatkala bicara soal uang pelicin, uang sogok dan uang ekstra, semua orang akan berkata, “Itu udah praktik yang umum di sini. Jadi nggak usah diomongin lagi. Udah tahu sama tahu”.

 Jadi Nabi Kecil atau Jadi Orang Konyol

Suap alias pelicin

“Sok suci! Munafik! Bodoh!” Itulah label-label yang mungkin akan diterima oleh orang yang mencoba untuk bersikap jujur dan etis di kantor. Lagi pula, semua orang mungkin akan menasihatinya dengan mengatakan, “Ini udah jadi praktik umum. Jadi, apa sih masalahnya?”

Kondisi ini akan jadi semakin sulit, apalagi dari pihak yang akan mengerjakan proyek memang lagi ngebet untuk proyek. Apalagi kalau proyek lagi sepi dan tidak banyak kerjaan, lagi butuh duit lalu muncul tawaran seperti ini. Tentu nggak gampang.

BACA JUGA:  Sendengkan Telinga pada Suara Tuhan

Saya teringat suatu pengalaman beberapa tahun silam. Saat itu, ada sebuah perusahaan BUMN menghubungi kami untuk mengadakan proyek training. Kalau kami bersedia, kami akan mendapatkan nilai proyek yang besar sekali. Bahkan diistilahkan, kami akan tutup toko selama beberapa tahun dan tinggal mengerjakan proyek inipun sudah bisa hidup. Tapi, tentunya kami harus berbagi paling tidak 50-50 dengan ‘orang dalam’ di perusahaan tersebut.

Bayangkan betapa menggiurkannya proyek seperti ini? Dan saya pribadi bukanlah orang yang mau sok suci. Akhirnya, kami rapat dan mengambil keputusan. Untungnya, saya bersyukur memiliki tim yang sangat etis. Kamipun membuat keputusan dengan tegas menolak proyek seperti itu. Kami harus merelakan orang lain yang menerima proyek itu. Bukan keputusan yang gampang, tapi kami mengikhlaskannya. Bukan karena alasan etis, tapi secara sadar kami tahu bahwa ini akan menjadi permulaan yang buruk, kalau kami terbiasa dengan cara mendapatkan proyek seperti itu.

Etis, Untuk Alasan Logis

Saya tidak berbicara bahwa kita perlu menjaga etika karena itulah perintah Tuhan. Ini bukan tulisan spiritual. Dan di era sekarang, mengatakan bahwa kita harus etis karena alasan kerohanian, terkadang justru membuat kita dicibir. Tapi, marilah kita mempertimbangkan dari sisi logisnya. Dan alasan inilah yang seringkali saya berikan, untuk belajar menahan diri.

Alasan pertama dan terutama adalah sikap tidak etis, bisa membuat mental kita jadi tidak terlatih. Bayangkan, kalau kita terbiasa mendapatkan bisnis dengan cara suap. Maka, besok-besoknya yang kita cari hanyalah bisnis yang bisa kita suap. Akibatnya, daripada berpikir untuk megembangkan bisnis kita dengan memberikan pelayanan dan produk yang lebih baik, energi kita jadi habis tersita untuk mencari orang-orang yang bisa disuap. Kompetensi kita jadi melemah.

BACA JUGA:  Tentang Seragam Sekolah dan Sikap Palsu di Antara Kita

Alasan kedua, soal konsekuensinya. Memang, sejak adanya lembaga seperti KPK banyak pihak yang mulai berhati-hati. Ketika kita melakukan praktik yang tidak etis, maka kita pun harus bersiap-siap seandainya kasus itu terbongkar dan ketahuan. Dikejar-kejar, disidang, dipidanakan, itulah risikonya. Sama seperti halnya, kejadian seorang HRD yang diceritakan di atas, yang akhirnya ketahuan. Ia pun akhrinya dipecat dan beberapa orang yang menerima uang insentif itupun juga dikasih SP3 dan diminta mengembalikan uang yang telah dipakai. Udah dipecat, plus malunya!

Alasan ketiga adalah soal dampak psikologisnya. Bayangkan, kalau terbiasa terima uang haram, maka itulah yang akhirnya dimakan pula oleh keluarga kita. Memang, soal ini banyak orang yang berbeda pendapat soal ini dan merasakan hal ini mengada-ada. Tapi bayangkanlah uang yang kita berikan untuk anak dan keluarga kita adalah uang hasil korpsi dan uang haram. Seorang rekan saya yang punya sahabat di kepolisian bercerita suatu ketika anak dari si polisi itu meninggal karena sakit parah. Waktu ia melayat, si polisi itu sempat menceracau, “Ini mungkin karena uang haram yang sering saya terima. Anak saya jadi korbannya!” Padahal, sakitnya itu mungkin tidak ada hubungannya dengan uang “pungli” yang ia terima. Tapi, di saat stress seperti itu, berbagai kesalahan yang kita lakukan, jadi menghantui kita kembali.

Akhirnya, tulisan ini bukan otomatis berupaya menjadikan Anda jadi nabi kecil di tempat kerja. Situasinya tidaklah mudah. Tetapi, hal yang perlu direnungkan di sini adalah: berusahalah untuk menjalankan bisnis dengan etis. Karena melakukan praktik bisnis yang tidak etis terkadang bisa seperti ular. Awalnya kita biarkan ia melilit dan kita pikir gampang untuk dilepaskan. Tapi makin lama ia makin kencang sampai akhirnya kitapun terbunuh oleh lilitan ular itu. So, memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin!

BACA JUGA:  Rahasia Produktif atau Menghasilkan Lebih Banyak

Anthony Dio Martin: “Best EQ trainer Indonesia”, direktur HR Excellency, psikolog, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta. IG: @anthonydiomartin dan website: www.hrexcellency.com. Informasi seminar dan training: 021-3862521 atau email: info@hrexcellency.com

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here