Sun. Nov 8th, 2026

Vatikan Perkuat Dialog Islam-Kristen di Pakistan, Persaudaraan Diuji oleh Perlindungan Minoritas

LAHORE– Perdamaian antarumat beragama tidak cukup dibangun melalui pertemuan, pernyataan persahabatan, atau seruan toleransi. Perdamaian sejati harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: ketika setiap orang dihormati martabatnya, hak-haknya dilindungi, dan perbedaan keyakinan tidak menjadi alasan untuk melakukan diskriminasi.

Semangat itulah yang mewarnai kunjungan delegasi Dikasteri untuk Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan ke Pakistan.

Di tengah persoalan diskriminasi dan perlindungan kelompok minoritas, delegasi yang dipimpin Sekretaris Dikasteri, Mgr. Indunil Kodithuwakku, berupaya memperkuat persaudaraan Islam-Kristen di negara Asia Selatan tersebut.

Dalam kunjungan ini, Mgr. Indunil didampingi Pater Markus Solo Kewuta SVD, yang dikenal sebagai Padre Marco, serta Nuncio Apostolik untuk Pakistan, Uskup Agung Germano Penemote.

Rangkaian kegiatan dimulai di Lahore pada Jumat (6/11/2026), dengan melibatkan sejumlah tokoh agama dan lembaga dialog antariman. Kota yang memiliki sejarah panjang kehidupan keagamaan ini menjadi ruang penting untuk merawat komunikasi antara komunitas Muslim dan Kristen.

Sejumlah tokoh yang memiliki peran dalam dialog lintas iman di Pakistan, antara lain Maulana Abdul Khabir Azad, Imam Besar Masjid Badshahi, serta lembaga Minhaj-ul-Quran.

Bagi delegasi Vatikan, dialog bukan sekadar membangun hubungan baik di antara pemimpin agama. Lebih dari itu, perjumpaan lintas iman diharapkan menghasilkan kerja sama nyata dalam bidang kemanusiaan, pendidikan, sosial, dan perdamaian.

Ketika persaudaraan diuji oleh diskriminasi

Upaya membangun persaudaraan tersebut berlangsung di tengah tantangan serius yang dihadapi komunitas minoritas di Pakistan. Umat Kristen, sebagai kelompok minoritas di negara mayoritas Muslim, masih menghadapi persoalan diskriminasi, tuduhan penodaan agama, hingga dugaan konversi paksa.

Persoalan ini juga menjadi perhatian para uskup Pakistan dalam kunjungan Ad Limina Apostolorum ke Vatikan pada Mei 2026.

Ketua Konferensi Waligereja Pakistan sekaligus Uskup Hyderabad, Mgr. Samson Shukardin, menyampaikan keprihatinan mengenai diskriminasi dan belum terpenuhinya hak-hak umat Kristen secara setara.

Situasi tersebut menegaskan bahwa dialog antaragama tidak dapat dipisahkan dari perjuangan menegakkan keadilan dan kebebasan beragama. Persaudaraan harus dibuktikan melalui perlindungan terhadap kelompok rentan, bukan berhenti pada keramahan dalam pertemuan resmi.

Momentum 75 tahun hubungan diplomatik

Kunjungan delegasi Vatikan juga berlangsung dalam momentum 75 tahun hubungan diplomatik Takhta Suci dan Pakistan yang terjalin sejak 1951.

Sebelumnya, Sekretaris Takhta Suci untuk Hubungan dengan Negara-Negara dan Organisasi Internasional, Uskup Agung Paul Richard Gallagher, mengunjungi Pakistan pada 8–10 Oktober 2026.

Ia bertemu dengan pemimpin Gereja Katolik dan pejabat pemerintah untuk menegaskan pentingnya rekonsiliasi, martabat manusia, dan perdamaian berkelanjutan.

Setelah Lahore, delegasi Vatikan dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Karachi dan Islamabad.

Melalui pesan WhatsApp kepada Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Sabtu (7/11/2026), Padre Marco menjelaskan bahwa agenda kunjungan mencakup seminar, konferensi, dan sejumlah pertemuan. Rombongan dijadwalkan kembali ke Roma melalui Islamabad pada 14 November 2026.

Semangat kunjungan ini sejalan dengan deklarasi Konsili Vatikan II, Nostra Aetate, yang mengajak Gereja Katolik membangun hubungan dengan pemeluk agama lain berdasarkan penghargaan, persaudaraan, dan kerja sama. (*/tD)

Related Post