
Sepuluh tahun setelah berziarah ke Lourdes, Prancis, kesembuhan Suster Bernadette Moriau diakui Gereja Katolik sebagai mukjizat medis ke-70 yang berkaitan dengan tempat ziarah Bunda Maria tersebut.
Ia datang dengan kursi roda, kaki kiri yang lumpuh dan terpelintir, serta tubuh yang bergantung pada penyangga dan obat pereda nyeri. Namun, Suster Bernadette Moriau tidak datang ke Lourdes untuk mencari mukjizat. Ia hanya ingin berdoa bersama orang-orang yang juga bergulat dengan penderitaan.

“Saya selalu percaya pada mukjizat, tetapi tidak pernah mengira itu akan terjadi pada diri saya,” ujar biarawati asal Prancis tersebut kepada Bill Whitaker, koresponden program televisi 60 Minutes.
Kesembuhan yang dialaminya kemudian menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah ziarah Lourdes. Pada 2018, Gereja Katolik secara resmi mengakui kesembuhan Suster Bernadette sebagai mukjizat medis ke-70 yang berkaitan dengan tempat ziarah Bunda Maria dari Lourdes.
Peristiwa itu terjadi setelah ia berziarah pada 2008, ketika usianya sekitar 69 tahun. Saat itu, ia menderita sindrom cauda equina, gangguan yang menyerang kumpulan saraf di bagian bawah tulang belakang dan dapat menyebabkan nyeri hebat, gangguan gerak, serta kelumpuhan.
“Kelumpuhan total. Prognosisnya sangat suram,” kenangnya.
Dokternya menyarankan agar ia berziarah ke Lourdes, di Prancis bagian selatan. Suster Bernadette mengikuti saran itu. Ia tidak datang dengan tuntutan agar Tuhan menyembuhkannya, melainkan dengan kerinduan untuk berdoa bersama para peziarah lainnya.
“Saya tidak pergi ke sana untuk mencari mukjizat. Saya hanya pergi ke sana untuk berdoa bersama orang lain,” katanya.
Merasakan Tuhan hadir dalam penderitaan
Lourdes merupakan salah satu pusat ziarah Katolik paling terkenal di dunia. Tempat ini berkaitan dengan pengalaman penampakan Bunda Maria yang dialami Bernadette Soubirous, seorang gadis muda, pada 1858.
Sejak itu, jutaan peziarah datang setiap tahun. Sebagian besar mencari ketenangan rohani, sedangkan yang lain membawa pergumulan penyakit dan harapan akan kesembuhan.
Di tengah prosesi di Lourdes, Suster Bernadette mengalami pengalaman rohani yang sangat membekas. Ia merasa Tuhan berjalan bersamanya. Dalam keheningan batinnya, ia merasakan pesan yang mengarahkannya untuk menyerahkan penderitaan kepada Tuhan.
“Aku melihat penderitaanmu dan penderitaan saudara-saudaramu yang sakit. Serahkan saja semuanya kepada-Ku,” kenangnya.
Pengalaman tersebut memberinya kekuatan batin. Namun, kesembuhan fisik tidak langsung terjadi.
Setelah kembali ke rumah, ia justru melewati tiga hari dengan rasa sakit yang luar biasa. Kondisi tubuhnya masih menjadi pergumulan berat.
Kemudian, suatu hari, ia tiba-tiba merasakan kekuatan untuk berjalan menuju kapel dan berdoa. Saat itu, ia merasakan hawa panas menjalar ke tubuhnya. Tubuhnya terasa rileks.
Ia belum memahami apa arti pengalaman tersebut. Namun, ketika berada di kamar, ia kembali merasakan suara batin yang memintanya melepaskan semua alat penyangga tubuh.
Suster Bernadette pun mulai melepaskan penyangga kakinya.
Kaki yang sebelumnya bengkok dan lumpuh kini kembali lurus. Ia dapat menapakkan kaki ke lantai tanpa merasakan sakit.
“Saya tahu itu adalah hal yang mustahil,” ujarnya.
Bagi Suster Bernadette, pengalaman itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Namun, kesaksian pribadi tersebut tidak serta-merta membuat Gereja menyatakannya sebagai mukjizat.
Ada proses panjang yang harus dilalui untuk memastikan kondisi medisnya sebelum kesembuhan dan perubahan yang dialaminya dapat dinilai secara menyeluruh.
Delapan tahun penyelidikan medis
Untuk menilai kesembuhan Suster Bernadette, Kantor Observasi Medis Lourdes melibatkan berbagai ahli. Lembaga ini bertugas memeriksa laporan kesembuhan yang terjadi di tempat ziarah tersebut.
Dr. Alessandro de Franciscis, dokter anak dan ahli epidemiologi lulusan Harvard yang memimpin kantor itu, menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap Suster Bernadette dilakukan secara mendalam.
Ia dirujuk kepada sejumlah ahli saraf dan ahli reumatologi. Pemeriksaan pencitraan serta elektrofisiologi dilakukan dua kali. Ia juga diperiksa oleh dua psikiater di Paris.
“Kami melakukan semua prosedur medis yang diperlukan untuk memastikan diagnosisnya secara mutlak,” kata de Franciscis.
Setelah pemeriksaan awal, kasus tersebut diserahkan kepada Komite Medis Internasional Lourdes, yang terdiri dari 33 dokter dan profesor. Mereka bertugas menilai apakah kesembuhan itu dapat dijelaskan berdasarkan pengetahuan medis.
Penyelidikan berlangsung selama delapan tahun. Para ahli menelaah diagnosis awal, rekam medis, serta perubahan kondisi tubuh Suster Bernadette.
Pada akhirnya, komite menyimpulkan bahwa kesembuhannya tidak dapat dijelaskan secara medis.
De Franciscis menyatakan bahwa berkas medis Suster Bernadette terbuka untuk ditelaah dokter lain yang ingin mempelajari kasus tersebut. Baginya, pemeriksaan yang ketat merupakan bagian penting dalam menilai laporan kesembuhan luar biasa.
Pada 2018, Gereja Katolik secara resmi mengakui kesembuhan Suster Bernadette sebagai mukjizat.
Menurut laporan 60 Minutes, lebih dari 7.000 laporan kesembuhan telah dikaitkan dengan Lourdes. Namun, hingga laporan itu ditayangkan, Gereja Katolik baru mengakui 70 di antaranya sebagai mukjizat medis.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengakuan mukjizat bukan keputusan yang diberikan secara tergesa-gesa. Setiap kasus harus melalui pemeriksaan dan penilaian yang mendalam.
Iman yang tidak meniadakan akal budi
Uskup Jean-Marc Micas dari Lourdes menjelaskan bahwa pengakuan terhadap suatu mukjizat mengandung makna iman yang mendalam.
“Menyatakan suatu peristiwa sebagai mukjizat berarti mengatakan, ‘Tuhan telah melakukan sesuatu,’” ujarnya.

Dalam tradisi Katolik, penyelidikan medis dan penghayatan iman tidak harus dipertentangkan. Pemeriksaan ilmiah membantu memastikan bahwa kesembuhan benar-benar terjadi dan tidak memiliki penjelasan medis yang memadai berdasarkan pengetahuan yang tersedia.
Pengakuan Gereja kemudian menempatkan peristiwa itu dalam kerangka iman.
Meski demikian, tidak setiap kesembuhan yang terjadi di Lourdes otomatis dinyatakan sebagai mukjizat. Ribuan kesaksian tidak serta-merta berujung pada pengakuan resmi.
Kisah Suster Bernadette memperlihatkan proses tersebut. Pengalamannya bermula dari sebuah ziarah sederhana, ketika ia datang dalam keadaan sakit dan ingin berdoa bersama sesama peziarah.
Pengalaman rohani yang dirasakannya kemudian diikuti perubahan fisik yang mengejutkan. Setelah bertahun-tahun diteliti, kesembuhannya akhirnya diakui Gereja.
Ia tidak berangkat ke Lourdes untuk membuktikan bahwa mukjizat ada. Ia datang sebagai seorang biarawati yang sedang menderita.
Justru dari perjalanan itulah lahir sebuah kesaksian tentang doa, ketekunan dalam menghadapi penderitaan, dan harapan yang tidak selalu hadir dalam bentuk yang dibayangkan manusia.
Bagi umat Katolik, Lourdes tetap menjadi tempat untuk membawa segala pergumulan kepada Tuhan. Tidak semua peziarah mengalami kesembuhan fisik. Namun, ziarah juga dapat menjadi ruang untuk menemukan penghiburan, meneguhkan iman, dan belajar menyerahkan diri di tengah penderitaan.
Kisah Suster Bernadette menjadi pengingat bahwa iman tidak selalu dimulai dari kepastian tentang apa yang akan terjadi.
Terkadang, iman tumbuh dari langkah sederhana: datang, berdoa, dan menyerahkan apa yang tidak sanggup ditanggung sendiri kepada Tuhan. (Sumber: EWTN NEWS)

