
Oleh Yoseph Yapi Taum, Dosen Prodi Magister Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
Di dalam kacamata estetik dan teologis kesusasteraan, bahasa bukanlah sekadar instrumen komunikasi yang datar atau alat penanda mekanis buatan manusia semata.
Melalui esai “Penyair Sebagai Bendahara Sabda” — yang disadur oleh Dick Hartoko dan termuat dalam antologi Tonggak Perjalanan Budaya (Kanisius, 1986) — Karl Rahner menegaskan bahwa sabda sejati (atau yang diistilahkan sebagai “kata purba”) adalah gagasan yang telah mendarah dan mendaging; ia merupakan karunia Ilahi yang tidak sekadar menunjuk ke arah sesuatu, melainkan menghadirkan kenyataan itu sendiri ke dalam dunia rohani manusia.
Dalam kerangka agung ini, seorang penyair tidak diposisikan sekadar sebagai perangkai kata yang lihai, melainkan sebagai seorang bendahara sabda — penjaga amanah yang memiliki kesaktian ajaib untuk mengangkat benda-benda, ruang, dan gelora batin dari kegelapan jurang harafiah menuju terangnya samudera kenyataan tanpa batas.
Kedudukan mulia penyair sebagai bendahara sabda menemukan manifestasinya yang paling purba dan autentik dalam sajak “Madura” (1968) karya Abdul Hadi W.M. — seorang maestro sastra sufi, budayawan, dan pemikir besar Indonesia kelahiran Sumenep, Madura (24 Juni 1946 – 19 Januari 2024).
Melalui sajak yang memenangkan Hadiah Puisi Terbaik II Majalah Sastra Horison pada tahun 1969 ini, Abdul Hadi tidak sedang memetakan tanah kelahirannya secara geografis-teknikal, melainkan membentangkan “kata-kata purba” yang memanggil pulang rindu, kesunyian, dan hakikat asal-usul insani ke hadapan kesadaran spiritual.
Esai ini akan menguraikan bagaimana sabda termuat, bagaimana lanskap Madura digambarkan, dan bagaimana tanah kelahiran tersebut hadir secara hidup dan bernyawa melalui sabda Abdul Hadi W.M. berdasarkan teori Bendahara Sabda.
Makna Teknikal Menuju Sabda Purba
Dalam teori Bendahara Sabda, kata-kata dibagi menjadi dua kategori: kata teknikal buatan yang datar dan memuaskan akal budi semata, serta kata purba yang lahir dari hati sanubari untuk menelaah jurang kenyataan. Abdul Hadi membuka sajak “Madura” dengan melepaskan diri dari deskripsi geografis yang kering, lalu menyentuh kata-kata purba yang menghadirkan kehadiran (præsentia) batiniah:
Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil itu
ketika tiba, dengan langit, pohon, terik, kapal
dan sampan yang tenggelam di pintu cakrawala
Selamat pagi tanah kelahiran
Bagi sang penyair, kata “pelabuhan”, “langit”, “pohon”, dan “terik” bukanlah label benda mati. Kata-kata tersebut menjelma menjadi gerbang rohani yang mendekatkan objek kepada pendengar, sejalan dengan postulat Karl Rahner bahwa sebuah benda setelah dinamakan dengan cinta kasih akan “diangkat ke dunia manusiawi, dunia rohani, sehingga memperoleh tingkat kenyataan yang lebih padat”.
Perjalanan pulang ini ditegaskan kembali melalui keheningan batin yang menyatu dengan alam:
Ketenangan Selat Kamal
adalah ketenangan hatiku
membuang pikiran dangkal
yang mengganggu sajakku
kurangkul tubuh alam
seperti mula kelahiran Adam
Di sini, “Selat Kamal” bukan sekadar titik penyeberangan geografis, melainkan cerminan kedwitunggalan manusia yang berada di perbatasan alam material dan spirituil.
Sang penyair merangkul tubuh alam bagaikan “mula kelahiran Adam” — sebuah kata purba yang membangkitkan kembali asal-usul kesucian manusia di hadapan Sang Pencipta.
Sungai Sampang dan Bukit Payudan
Sabda yang sejati memiliki kekuasaan magis untuk menerangi benda dari dalam, bagaikan keong kecil yang memperdengarkan gemuruh samudera raya. Abdul Hadi menggunakan elemen-elemen lokal Madura — seperti Sungai Sampang dan Bukit Payudan — bukan sebagai latar belakang pasif, melainkan sebagai manifestasi “kata purba” yang menuntun jiwa pada perenungan eksistensial yang keras dan abadi:
Kedangkalan Sungai Sampang
adalah kedangkalan hatiku
menimbang hidup terlalu gamang
dan di situ ketergesaan mengganggu
Dan pada bait berikutnya, penyair memperdalam kontemplasi tersebut hingga menyentuh muara transendental:
Diamnya Sungai Sampang
adalah diamnya sajakku
sekali waktu banjir datang
sekali waktu airnya biru
dan bertetap tujuan
ke suatu muara
yang berasal dari suatu daerah pegunungan
untuk sumber pertama
Ungkapan “sumber pertama” dalam bait di atas adalah bentuk tertinggi dari sabda seorang penyair sufi. Mengikuti pandangan bahwa sejarah kata-kata dan kehidupan pada akhirnya berpusat pada Tuhan, sungai dan muara dalam sajak ini ditarik ke dalam dimensi teologis: ia adalah kerinduan asal-usul yang bermuara kembali kepada Sang Sumber Abadi.
Begitu pula ketika penyair melukiskan Bukit Payudan, di mana kepastian hidup dicitrakan begitu kukuh:
Keramahan Bukit Payudan
adalah keramahan sajakku
untuk mengerti kepastian
yang lebih keras dari batu
Batu dan bukit bukanlah materi yang mati; di tangan sang bendahara sabda, unsur-unsur alam tersebut diangkat keluar dari gua kegelapan materialisme menuju terang benderang makna rohani.
Madura, Kepulangan, Keterpencilan, dan Cinta yang Abadi
Madura dalam sajak ini hadir bukan sebagai entitas ruang yang objektif-statistik, melainkan sebagai ruang batin (spiritual landscape) yang merangkum suka, duka, keterpencilan, sekaligus rekonsiliasi total jiwa manusia dengan takdirnya. Keterpencilan desa Pasongsongan dileburkan ke dalam cermin batin sang penyair:
Keterpencilan desa Pasongsongan
adalah keterpencilan hatiku
sebelum memulai perjalanan
ke jauh kota dan pulau
tapi keabadian lautnya kini
telah mengembalikan cintaku
tanah yang pernah tersia sebelum dimengerti
dan ditinggalkan rasa kebanggaanku
Di sinilah keunggulan Abdul Hadi sebagai Bendahara Sabda teruji secara paripurna. Kata-kata seperti laut, pulau, darah, dan tanah kelahiran tidak lagi rapuh atau usang.
Sabda sang penyair menghadirkan Madura secara utuh, bernyawa, dan berdenyut — tempat di mana siklus pengembaraan manusia menemukan pelabuhan terakhirnya:
sebab di sinilah tumpahnya
darah kita pertama
dan terakhir berhentinya
mengaliri nadinya
Melalui sajak “Madura”, Abdul Hadi W.M. telah membuktikan dirinya sebagai seorang Bendahara Sabda sejati dalam konstelasi sastra Indonesia.
Di bawah tangan dinginnya, kata-kata tidak berhenti sebagai alat komunikasi yang utilitari atau rumus kimia yang dingin, melainkan menjelma menjadi kata purba yang memancarkan cahaya Ilahi, menghadirkan kehangatan tanah kelahiran, dan menyuarakan kerinduan purba manusia kepada Sang Maha Pencipta.
Esai ini menegaskan bahwa kebesaran seorang sastrawan terletak pada kemampuannya merawat kesucian sabda, menjadikan puisi sebagai wahana pencerahan spiritual, dan mengangkat realitas dunia fana ke dalam keabadian makna.
Madura bukan lagi sekadar pulau di ujung timur Jawa, melainkan sebuah katedral batin yang abadi di dalam altar kesusasteraan Nusantara.*

