Thu. Aug 27th, 2026

Di Tengah Reruntuhan Flores, Solidaritas Tak Ikut Runtuh

Para relawan bekerja karena cinta.

FLORES, NTT — Tanah Flores belum benar-benar berhenti berguncang. Setelah gempa tektonik berkekuatan 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, ribuan gempa susulan masih menyertai hari-hari para penyintas.

Hingga 26 Agustus pukul 07.00 WIB, tercatat 7.692 kali gempa susulan. Aktivitas itu diperkirakan masih berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan.

Di balik angka-angka itu terdapat kehidupan yang berubah dalam sekejap. Sebanyak 105 orang meninggal dunia, 1.603 orang mengalami luka-luka, sementara 180.327 orang terpaksa mengungsi.

Kerusakan juga membentang luas: 73.818 rumah warga terdampak, termasuk 23.276 rumah yang mengalami kerusakan berat. Sebanyak 502 fasilitas pendidikan, 396 rumah ibadah, dan 118 fasilitas kesehatan turut mengalami kerusakan.

Bagi mereka yang masih bertahan di pengungsian, bencana belum selesai ketika gempa utama berlalu. Hari-hari berikutnya justru menghadirkan kebutuhan yang sangat sederhana sekaligus mendesak: makanan, air bersih, tempat berteduh, obat-obatan, sanitasi dan layanan kesehatan.

Kebutuhan mendesak itu mencakup pangan dan nutrisi, obat-obatan, fasilitas sanitasi, air bersih, shelter kit, tandon air, layanan medis darurat, penguatan tempat pengungsian, serta pemantauan kesehatan secara rutin.

Dalam situasi itulah Jaringan Caritas Indonesia bergerak. Sejak 24 jam pertama, pelayanan darurat diintegrasikan di empat keuskupan terdampak: Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Maumere, dan Keuskupan Labuan Bajo.

Caritas Indonesia mengaktifkan Divisi Tanggap Darurat dan Core Response Team untuk memperkuat koordinasi dan manajemen pelayanan. Bahkan, sebuah Pos Logistik Nasional dibuka di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk mengatur pengiriman bantuan melalui jalur laut menuju Flores.

One Church, One Response

Uskup Maxi memberkati umatnya

Semangat yang dibawa adalah One Church, One Response. Bantuan tidak hanya berarti mengirim barang. Di dalamnya terdapat koordinasi, dukungan dana, relawan, tenaga medis, pertukaran data kebencanaan, dan penguatan layanan di lapangan.

Dengan cara itu, Gereja berusaha hadir bukan sekadar sebagai institusi, melainkan sebagai sesama yang berdiri di samping mereka yang sedang kehilangan.

Di Aeramo, Keuskupan Agung Ende, misalnya, dibuka Pos Pengungsian Terpadu di Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo. Pos ini melayani masyarakat terdampak di Kecamatan Aesesa dan sekitarnya. Meski berada di lingkungan paroki, pos tersebut ditegaskan sebagai ruang kemanusiaan yang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Keterlibatan paroki menjadi salah satu kekuatan penting dalam respons bencana. Pastor, pengurus paroki, stasi, komunitas basis gerejani, dan kaum muda bergerak mendirikan pos pelayanan, tempat perlindungan sementara, dapur umum, hingga layanan psikososial.

Ironis sekaligus menguatkan, sebagian besar orang yang melayani itu sendiri adalah penyintas gempa. Namun pengalaman sebagai korban tidak membuat mereka berhenti menolong korban lain. Sebab luka akibat gempa tidak semuanya terlihat.

Takut dan Cemas

Ribuan guncangan susulan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Anak-anak membutuhkan ruang untuk kembali bermain. Orang dewasa membutuhkan tempat untuk bercerita. Karena itu, pendampingan psikososial dilakukan melalui permainan interaktif, gerak dan lagu, storytelling, relaksasi, afirmasi positif, konseling, hingga pendampingan psikospiritual.

Di Keuskupan Agung Ende, bantuan logistik telah menjangkau sejumlah paroki dan stasi. Di Paroki Kombandaru dan Worhonio, bantuan telah diterima 372 keluarga atau 1.860 jiwa.

Pos Pengungsian Terpadu Aeramo juga memperoleh peralatan dapur umum, paket pangan untuk 100 keluarga, dan perlengkapan pendukung pengungsian. Sementara pendampingan psikososial dan pastoral menjangkau 324 penerima manfaat, terdiri atas 210 anak dan 114 orang dewasa.

Layanan kesehatan pun bergerak mendekati warga. Di sejumlah titik di wilayah Ende, layanan medis telah menangani ratusan pasien.

Di Desa Toposoke dan Nangaba, misalnya, 173 pasien memperoleh layanan, sedangkan di wilayah Nuabosi, Desa Ntentenda, terdapat 141 pasien yang dilayani.

Di Maumere, perhatian diarahkan pada penataan data penerima manfaat, distribusi pangan, serta pelayanan kesehatan.

Bantuan pangan mendukung Dapur Umum Seminari yang melayani 302 jiwa. Di 36 posko pengungsi, telah disalurkan 7.425 kilogram beras, 13.650 butir telur, dan 200 matras atau tikar. Total penerima manfaat mencapai 2.454 jiwa atau 437 keluarga.

Distribusi Kebutuhan

Sementara di Keuskupan Ruteng, distribusi kebutuhan dasar dan perlengkapan shielter serta kebersihan menjangkau 10.256 jiwa. Bantuan yang disalurkan meliputi 10.544 kilogram beras, 456 liter minyak goreng, makanan siap saji, hygiene kit, dan shelter kit.

Layanan medis menjangkau 580 pasien, sedangkan intervensi psikososial menjangkau 485 warga. Secara keseluruhan, penerima manfaat di wilayah Keuskupan Ruteng mencapai 11.321 jiwa.

Di Keuskupan Labuan Bajo, bantuan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar dan dukungan bagi fasilitas medis darurat. Logistik berupa 900 kilogram beras, 380 liter minyak goreng, 81 kilogram gula pasir, 36.540 butir telur, 83 selimut, serta paket hygiene kit telah didistribusikan dan menjangkau 2.779 jiwa.

Jika seluruh respons itu dilihat secara lebih luas, kebutuhan dasar yang telah dihimpun dan disalurkan Jaringan Caritas Indonesia menunjukkan besarnya pekerjaan kemanusiaan yang masih harus dilakukan.

Data bantuan mencatat 16.425 kilogram beras, 80.910 butir telur, 62.560 bungkus mi instan, dan 2.584 liter minyak goreng.

Kebutuhan hidup juga tidak berhenti pada makanan. Untuk kebersihan dan sanitasi, tersedia 16.350 Hygiene & Dignity Kit, 1.038 pembalut wanita, 261 popok bayi, serta perlengkapan mandi dan cuci berupa 38 batang sabun mandi, 38 pasta gigi, 36 sikat gigi, 12 kotak sabun cuci/deterjen, dan 720 produk antinyamuk.

Untuk kebutuhan non-pangan dan tempat berlindung, bantuan mencakup 290 lembar terpal, 332 selimut, 200 matras/tikar, dan 1.288 kantong plastik logistik.

Kebutuhan Obat-obatan

Sementara itu, kebutuhan obat-obatan terus menjadi perhatian. Sebanyak 180 kilogram obat telah dikirim pada pengiriman pertama. Caritas Indonesia juga sedang memproses pengiriman 1,1 ton obat-obatan yang diharapkan tiba di lokasi bencana pada 30 Agustus 2026.

Di tengah semua angka tersebut, ada satu kenyataan yang tak boleh dilupakan: pemulihan manusia tidak dapat diukur hanya dengan jumlah kilogram beras, liter minyak, atau paket bantuan.

Di balik setiap angka ada keluarga yang kehilangan rumah, anak yang takut tidur di dalam bangunan, orang tua yang cemas menghadapi gempa susulan, dan warga yang harus memulai kembali kehidupan dari tempat pengungsian.

Karena itu, respons kemanusiaan di Flores bukan hanya tentang menyelamatkan mereka dari lapar dan dingin. Ia juga tentang mengembalikan rasa aman, menjaga martabat, dan meyakinkan para penyintas bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.

Tanah boleh berguncang. Rumah boleh runtuh. Tetapi solidaritas tidak boleh ikut roboh.

Dan di antara reruntuhan Flores, solidaritas itulah yang kini sedang dibangun kembali—sedikit demi sedikit, bantuan demi bantuan, tangan demi tangan.

Caritas Indonesia menyatakan komitmennya untuk terus mendampingi warga terdampak sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan, dengan memastikan bantuan disalurkan sambil tetap menjunjung martabat kemanusiaan. (karina/tD)

Related Post