
Air hujan merembes melalui atap ilalang yang telah tua. Tikar pandan di ruang tidur basah. Malo menarik tubuhnya sedikit ke sudut yang masih kering, lalu memeluk kedua adiknya, Bili dan Koni, agar mereka tidak menggigil.
Kemiskinan seperti seseorang yang tak tahu malu. Ia masuk melalui celah-celah dinding, berbaring di atas tikar, bahkan ikut tidur bersama mereka.
Namun, pada musim kemarau, rumah reyot itu berubah menjadi planetarium sederhana. Dari celah atap yang menganga, Malo dan kedua adiknya dapat melihat bulan dan gemintang.
“Suatu hari kita punya rumah yang tidak bocor,” kata Malo.
“Benarkah?” tanya Koni.
“Benar.”
“Dari mana uangnya?”
Malo terdiam.
Ia belum tahu.
Tetapi sejak kecil Malo belajar satu hal: orang miskin boleh tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak boleh kehilangan harapan.
Ayahnya, Dairo, buta. Sembilan tahun lalu, ketika memanjat pohon rita untuk memetik buah sirih, ia jatuh. Kepalanya membentur batu. Darah mengucur. Sejak saat itu dunia menjadi gelap baginya.
Dokter pernah berkata, penglihatannya mungkin dapat dipulihkan dengan operasi yang membutuhkan uang ratusan juta rupiah.
Ratusan juta.
Angka yang terdengar seperti jumlah uang dari dunia lain.
Ibu mereka, Winny, lebih menyedihkan lagi. Kedua kakinya perlahan melemah tanpa diketahui penyebabnya. Diurut berkali-kali, tak kunjung membaik.
Malo tumbuh bukan sekadar sebagai anak.
Ia tumbuh sebagai tangan kedua orang tuanya.
Sebagai kakak bagi Bili dan Koni.
Sebagai lelaki kecil yang diam-diam memikul rumah besar di pundaknya.
Malo rajin sekolah. Ia pintar Matematika dan Kimia. Ia selalu juara kelas dan hampir selalu mendapatkan beasiswa.
Namun uang beasiswa itu tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya.
Diam-diam ia membeli telur. Sesekali daging. Sisanya untuk kebutuhan sekolah.
Di belakang rumah, ia membuat bedeng sayur. Ia dan kedua adiknya menanam singkong dan ubi jalar. Seminggu paling banyak dua kali mereka makan nasi.
Selebihnya singkong.
Ubi.
Dan sesekali belut hasil tangkapan Malo dari kali.
Tidak mewah, tetapi cukup untuk membuat mereka bertahan.
Setiap pagi Malo berangkat sekolah dengan seragam yang sudah memudar. Anehnya, ia tidak pernah menundukkan kepala ketika berhadapan dengan anak-anak orang berada.
Ia tahu bajunya tidak mahal.
Ia tahu rumahnya beratap ilalang.
Ia tahu keluarganya miskin.
Tetapi ia juga tahu bahwa harga manusia tidak pernah ditentukan oleh isi dompetnya.
Sore hari, ia membantu kedua adiknya mengambil air dari mata air.
Mereka bertiga membawa air pulang, merebusnya, lalu memandikan ayah dan ibu.
Winny sering menangis ketika anak-anaknya memijat kaki dan tangannya.
Dairo meraba kepala mereka satu per satu.
“Semoga Tuhan menjaga kalian,” katanya.
Lalu ia membuat tanda salib di dahi ketiga anaknya.
Malo selalu menahan air mata.
Ia tidak ingin adik-adiknya tahu bahwa ia sering takut.
Takut suatu hari beasiswa berhenti.
Takut ayahnya semakin sakit.
Takut kaki ibunya benar-benar tak dapat digunakan.
Dan yang paling ia takutkan: tak mampu mengubah nasib keluarganya.
***
Tahun-tahun berlalu.
Malo lulus SMA dengan prestasi terbaik dan mendapat beasiswa kuliah ke Australia. Hanya dua orang dari pulaunya yang mendapatkan kesempatan itu.
Salah satunya Umbu Kawatu, pemuda dari keluarga berada.
Sebelum berangkat, Malo memeluk kedua adiknya.
“Belajar yang rajin.”
“Iya.”
“Jangan melawan Mama dan Papa.”
“Iya.”
“Dan jangan lupa berdoa.”
Malo berhenti sejenak.
“Doakan Kakak juga.”
Ia berangkat dengan sebuah tekad: pulang bukan sebagai orang sukses untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai anak yang membawa keluarganya keluar dari kemiskinan.
Di Australia, Malo berubah menjadi Vincentius setelah dibaptis. Ia cepat beradaptasi. Percaya diri, cerdas, tetapi tidak sombong.
Di kampus itulah ia mengenal Mai, gadis Vietnam yang cerdas dan hangat.
Mereka semakin dekat ketika dosen memasukkan keduanya dalam satu kelompok penelitian tentang pencemaran di sebuah sungai di pinggir kota.
Mereka sering bertemu.
Berdiskusi.
Mengambil sampel.
Tertawa.
Suatu sore, ketika mengambil sampel ikan, kepala mereka beradu.
Mai terhuyung.
Malo refleks menangkap tubuhnya sebelum tercebur ke sungai.
“Hati-hati,” katanya.
Mai tersenyum.
“Terima kasih.”
Sejak hari itu teman-teman mereka menggoda.
“Mamai!”
Malo tertawa.
Mai memerah.
Namun ada seseorang yang tidak tertawa.
Kien.
Ia diam-diam menyukai Mai.
Dan diam-diam pula ia membenci Malo.
Kecemburuan yang semula hanya berupa duri kecil berubah menjadi luka.
Lalu menjadi racun.
Suatu sore, Kien mencuri uang dan jam tangan milik beberapa teman.
Kemudian semuanya dimasukkan ke tas Malo.
Saat makan bersama, uang teman-teman mereka hilang.
Malo hendak membantu membayar.
Ketika dompetnya dikeluarkan, sejumlah uang jatuh.
“Wuih, banyak sekali!” seru Kien.
Kecurigaan pun muncul.
“Mungkin uang kita ada di situ.”
Malo pucat.
“Aku tidak mengambilnya.”
Tetapi tuduhan bergerak lebih cepat daripada kebenaran.
Kasus itu sampai ke kampus.
Malo dipanggil wakil rektor.
Ia menjelaskan.
Berkali-kali.
Namun nilai penelitian kelompok mereka dipotong menjadi C.
Malo pulang ke asrama dengan langkah berat.
Malam itu ia menelepon rumah melalui handphone tetangga.
“Apa kabar, Nak?” suara Dairo terdengar dari seberang.
“Baik, Papa.”
Malo menggigit bibir.
Ia ingin berkata bahwa hidupnya sedang runtuh.
Ingin menangis.
Ingin berteriak.
Tetapi ia teringat wajah ayah dan ibunya.
“Jangan sedih,” katanya akhirnya. “Malo baik-baik saja.”
Itulah kebohongan pertama yang ia katakan kepada orang tuanya.
Dan mungkin, kebohongan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Mai tidak percaya.
Ia menyelidiki.
CCTV diperiksa.
Kebenaran akhirnya muncul.
Kien tertangkap.
Malo terbukti tidak bersalah.
Namun luka telah telanjur dibuat.
Yang lebih menyakitkan, Umbu Kawatu membawa kabar berbeda ke kampung: “Malo dikeluarkan karena mencuri.”
Kabar itu menyebar seperti api.
Orang-orang mencemooh keluarganya.
Tetapi Malo memilih diam.
Ia tidak ingin keluarganya hidup dalam perang.
Ia hanya bekerja lebih keras.
Penelitiannya mulai masuk jurnal internasional.
Perusahaan teknologi tertarik kepadanya.
Kemudian sebuah perusahaan pakan ternak merekrutnya.
Karier Malo melesat.
Perusahaan berkembang pesat.
Namun ketika ditanya tentang masa lalu, Malo hanya berkata:
“Aku tidak perlu membalas orang yang pernah menjatuhkanku. Aku hanya perlu berdiri lebih tinggi.”
Di kampung, Winny masih menunggu.
Mereka memelihara beberapa ekor babi.
“Ini untuk Malo,” katanya kepada Bili dan Koni. “Kalau kakakmu pulang, kita potong. Dia pasti sudah lama tidak makan daging.”
Setiap menyebut nama Malo, air mata Winny jatuh.
Rindu ternyata dapat membuat dada terasa sesak.
Suatu siang, sebuah Fortuner berhenti di depan rumah beratap ilalang.
Malo turun.
Tas jinjing di tangannya.
Leo, sahabatnya, ikut turun.
Di balai-balai, Dairo, Winny, Bili, dan Koni sedang makan kolak.
“Malo!”
Winny berusaha berdiri.
Entah dari mana kekuatan itu datang.
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu berlari kecil.
Ia memeluk Malo.
Semua terdiam.
Dairo meraba-raba ke arah mereka. Tahu-tahu kepala terbentur cukup keras pada tiang rumah. Tahu-tahu Dairo bisa melihat kembali.
“Mama bisa berjalan!” teriak Koni.
”Papa bisa melihat,” kata Bili.
Winny menangis.
Malo juga menangis.
Tak seorang pun tahu apakah itu mukjizat, kekuatan cinta, atau sekadar tubuh seorang ibu dan bapak yang tiba-tiba menemukan alasan untuk berdiri dan melihat.
Bagi mereka, itu tetap mukjizat.
Setahun kemudian, nama Malo dan Mai berdiri berdampingan di pelaminan. Diberkati dua orang imam, teman kelasnya dulu.
PT Mamai Pakan Sejahtera berdiri.
Perusahaan itu diresmikan dengan kehadiran gubernur. Keluarga Mai ikut berinvestasi. Lapangan kerja terbuka.
Dan di kampung, orang-orang yang dahulu mencemooh keluarga Malo mulai datang membawa senyum.
Namun Malo tidak membalas dengan kesombongan.
Ia hanya pulang ke rumah lama.
Atap ilalang itu masih ada.
Ia mendongak.
Dulu dari celah atap itu ia melihat bulan dan bintang sambil berjanji akan mengubah hidup keluarganya.
Kini ia tersenyum.
Di sampingnya berdiri Mai.
“Dulu,” kata Malo, “aku selalu berpikir harus menjadi matahari agar keluargaku bisa melihat jalan.”
Mai menggenggam tangannya.
“Dan sekarang?”
Malo memandang rumah itu.
“Sekarang aku tahu. Kadang-kadang kita hanya perlu menjadi cahaya kecil yang tidak berhenti menyala.”
Dari dalam rumah terdengar suara Dairo tertawa.
Winny memanggil mereka untuk makan.
Singkong dan ubi masih tersaji.
Tetapi kali ini ada daging di meja.
Dan untuk pertama kalinya, Malo tidak merasa sedang makan makanan orang miskin.
Ia merasa sedang menyantap kemenangan.
Bukan kemenangan atas Kien.
Bukan kemenangan atas Umbu.
Melainkan kemenangan atas rasa takut yang selama bertahun-tahun diam-diam hidup di dalam dirinya.
Di bawah atap ilalang yang pernah bocor, Malo akhirnya memahami: kemiskinan memang pernah memeluk mereka erat. Tetapi harapan ternyata memeluk mereka lebih erat lagi.*

