
Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan—penyair Jerman, Friedrich Schiller
Jibrail Paschalis Bataona adalah lelaki hitam manis asal Lamalera, sebuah negeri yang lekat dengan laut dan ikan paus. Tanahnya kering, hasil pertaniannya tidak banyak menjanjikan. Kehidupan masyarakat pun sangat bergantung pada laut, termasuk hasil perburuan ikan paus yang secara turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Dari tanah yang serba terbatas itu, Paschal belajar satu hal penting: hidup harus diperjuangkan. Setelah menamatkan SMA Katolik Anda Luri di Waingapu, Sumba Timur, kota yang dikenal sebagai Kota Seribu Hinggi, ia berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tidak mencari jalan pintas. Ia memilih bekerja dan berjuang dengan caranya sendiri.
Jakarta menerimanya sebagai seorang office boy. Namun, Paschal bukan office boy biasa.
Office Boy yang Melahap Koran
Di sela-sela pekerjaan, ia adalah pembaca yang rakus. Apa saja dibacanya. Koran Kompas yang menjadi langganan kantor tempatnya bekerja, misalnya, tidak pernah luput dari perhatiannya. Setelah orang-orang selesai membaca dan koran itu tergeletak begitu saja, Paschal mengambilnya. Ia melahap berita, artikel, dan berbagai informasi yang tersaji di dalamnya.
Bagi Paschal, membaca bukan sekadar mengisi waktu luang. Membaca adalah cara memperluas wawasan. Diam-diam, kebiasaan itu diperhatikan sang bos. Pengetahuan umum Paschal semakin luas. Suatu ketika, bosnya bertanya mengapa ia begitu gemar membaca. “Saya ingin menambah pengetahuan,” jawab Paschal sederhana. Pertanyaan berikutnya datang: apakah ia ingin kuliah?
Pertanyaan itu diajukan berkali-kali. Paschal tidak langsung menjawab. Ia menimbang-nimbangberkali-kali juga. Akhirnya, ia berkata, “Iya.”
Sang bos kemudian menyuruhnya mencari kampus yang ia sukai. Ketika mencari informasi tentang perguruan tinggi, Paschal menemukan STF Driyarkara. Ia langsung jatuh cinta pada kampus yang menjadi rahim bagi banyak pemikir Indonesia itu. Ia pun memilih belajar filsafat di kampus yang diasosiasikan kuat dengan Romo Driyarkara dan Romo Franz Magnis-Suseno tersebut.
Dari seorang office boy yang gemar membaca, Paschal kemudian tumbuh menjadi seorang “pencari pengetahuan” yang menemukan jalannya sendiri.
Berjalan Kaki Mencari Rezeki
Selepas menamatkan kuliah di STF Driyarkara, Paschal masuk ke dunia percetakan. Ia bekerja sama dengan sebuah percetakan di kawasan Galur, Jakarta Pusat. Tugasnya mencari order, menawarkan jasa, membangun jaringan, dan belajar mengurus berbagai macam pekerjaan percetakan.
Ada satu cara yang sangat khas dilakukannya: berjalan kaki. Paschal memang menyukai jalan kaki. Tidak peduli garangnya matahari Jakarta, kota ini dijelajahi Paschal dengan kedua kakinya.
Dari satu tempat ke tempat lain, ia berjalan. Dari satu calon pelanggan ke calon pelanggan berikutnya, ia melangkah.
Baginya, berjalan kaki bukan sekadar alat transportasi murah. Jalan kaki adalah cara melihat kota, bertemu orang, membangun relasi, sekaligus mencari peluang. Dari perjalanan-perjalanan itulah jaringan perlahan terbentuk.
Penerbit Kecil untuk Para Penulis

Bersama kakanya, Karel Batona, Paschal kemudian menginisiasi sebuah penerbit mungil: Penerbit Ikan Paus. Namanya tentu bukan kebetulan. Ada tanah kelahiran yang ingin tetap dibawanya dalam perjalanan hidup di Jakarta.
Penerbit itu tidak dibangun untuk mengejar keuntungan besar. Dengan dana yang sangat terbatas, Paschal membantu orang-orang menerbitkan buku.
Ia membantu penulis yang barangkali tidak memiliki cukup uang atau akses untuk menerbitkan karya mereka. Salah satu hal yang bisa dibantu melalui penerbit itu adalah pengurusan ISBN.
Keuntungan materi tidak banyak. Tetapi Paschal mendapatkan kepuasan lain: melihat buku seseorang lahir dan menjadi karya yang bisa dibaca orang lain. Mungkin di situlah paradoks hidupnya: ia tidak banyak memiliki uang, tetapi ia memilih memperkaya dunia dengan buku.
Rumah yang Penuh Buku

Kecintaan Paschal kepada buku tidak berhenti pada pekerjaan. Ia juga mengoleksinya. Buku dari berbagai penerbit dikumpulkannya. Buku apa pun yang dianggap menarik akan dia beli. Tempat favoritnya adalah pasar buku loak. “Beli buku di sini, murah dan bisa dapat buku-buku berkualitas,” katanya.
Kini ribuan buku memenuhi ruang tidurnya dan ruang-ruang lain di rumahnya. Buku menjadi barang yang paling banyak dimilikinya. “Karena saya menyukai jalan kaki dan ada teman yang jualan buku di Blok M Mall. Maka hanya buku yang saya punya. Yang lain tidak ada,” ujar pria yang masih melajang ini.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sekaligus menggambarkan seluruh dirinya. Ia tidak mengejar banyak benda. Ia memilih buku.
Jakarta dalam Langkah dan Halaman
Sampai sekarang Paschal masih menempuh jalanan Jakarta dengan berjalan kaki. Ia berkeliling dari satu lapak buku ke lapak lainnya, mencari buku berkualitas yang bersahabat dengan kantong.
Ada kenikmatan tersendiri dalam berburu buku bekas bagi Paschal. Di antara tumpukan buku yang tampak tidak beraturan, selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang berharga. “Dengan kantong yang tipis, loakanlah jawabannya untuk bisa dapat buku,” katanya.
Kalimat itu mungkin merupakan semacam filosofi hidupnya. Keterbatasan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti belajar. Kantong boleh tipis, tetapi wawasan tidak boleh sempit.
Kesederhanaan dan kegigihannya dalam menjalani hidupnya terinsipirasi dari sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller: “Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan”.
Nilai itulah yang tampaknya ingin ia rawat: hidup secukupnya, bekerja sungguh-sungguh, terus belajar, dan sebisa mungkin berguna bagi orang lain.
Dari Lamalera yang kering, Paschal membawa dirinya ke Jakarta. Dari pekerjaan sederhana sebagai office boy, ia menemukan jalan menuju dunia filsafat. Dari jalan kaki, ia menemukan pelanggan, kawan, dan jaringan. Dari kecintaannya membaca, lahirlah kecintaan menerbitkan buku.
Dan kini, setiap langkahnya di Jakarta seperti membawa satu keyakinan sederhana: hidup adalah perjalanan, dan buku adalah bekal untuk memahami perjalanan itu. (EDL)

