
“Tuhan genggamlah tanganku yang hina
Pimpinlah langkah kaki yang enggan melangkah…
Tuhan oh Tuhan dengarlah keluh kesahku,
Indahkanlah ratap serta tangisku,
Bawalah daku ke Sion, ke tempat Engkau berkanjang.”
Bagi sebagian umat Katolik di Indonesia lagu Bawa Daku ke Sion, bukan lagu baru lagi. Lagu tersebut dengan liriknya yang sederhana dan bernada doa telah lama menjadi teman yang mendampingi di kala duka atau saat dirundung masalah, sakit, kehilangan, dan berbagai situasi lain.
Di balik lagu yang sudah menyatu dengan kehidupan mereka, terdapat sosok seorang imam asal Indonesia yang kini mengemban tugas penting di jantung Gereja Katolik dunia.
Dia adalah Pater Markus Solo Kewuta, SVD, yang akrab disapa Padre Marco. Imam kelahiran Lewouran, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 4 Agustus 1968 ini merupakan satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pejabat di Dikasteri untuk Dialog Antarumat Beragama, salah satu kementerian di Pemerintahan Takhta Suci Vatikan.
Sejak bergabung pada Juli 2007, ia mengabdikan diri untuk membangun dialog, saling pengertian, dan kerja sama antarumat beragama di berbagai belahan dunia.
Semula untuk Ibadat Jalan Salib
Mari kembali ke lagu. Jauh sebelum berkarya di Vatikan, Padre Marco adalah seorang frater muda di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Flores.
Di tengah masa pembinaan sebagai calon imam, pada 1992 ia menciptakan lagu Bawa Daku ke Sion. Awalnya lagu itu disusun untuk kebutuhan ibadat Jalan Salib. Namun sesungguhnya, lagu tersebut lahir dari pergulatan batin yang telah lama tersimpan dalam dirinya.
Padre Marco mengungkapkan bahwa syair lagu itu merupakan ungkapan kerinduan terdalam seorang manusia yang mendambakan pengalaman diselamatkan Tuhan.
Baginya, “Sion” bukan sekadar sebuah tempat, melainkan lambang perjalanan menuju hadirat Allah, menuju kehidupan yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan damai.
Karena itulah setiap bait lagu ini berbicara tentang kepasrahan, pertobatan, dan harapan akan penyertaan Tuhan di tengah kelemahan manusia.
Kedalaman pesan teologis itu berpadu dengan melodi yang sederhana tetapi menyentuh hati. Tidak mengherankan apabila lagu tersebut kemudian menyebar luas dan menjadi salah satu lagu rohani paling populer di Indonesia. Di youtube tersua dalam berbagai versi.
Di banyak daerah, terutama di Flores dan Nusa Tenggara Timur, Bawa Daku ke Sion bahkan menjadi lagu yang hampir selalu dinyanyikan dalam Misa Requiem dan prosesi pemakaman sebagai doa mengantar umat yang telah berpulang menuju rumah Bapa.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak kesaksian bermunculan mengenai kekuatan spiritual lagu tersebut. Sejumlah umat mengaku menemukan ketenangan batin dan mendapatkan kesembuhan ketika terus menyanyikannya dalam masa-masa sulit.
Testimoni atas ”Mukjizat”
Seorang ibu bernama dr. Fitri sangat tidak tahan terhadap sakit yang dia derita. Dalam keadaan tersebut, dia menyanyikan lirik lagu tersebut.
Dia mengalami rasa ringan atas sakitnya dan pada akhirnya ”syarat kejepit” yang amat menyiksa pada pahanya sembuh tanpa operasi, padahal segala sesuatu sudah disiapkan untuk menjalani operasi.
Fitri mengaku mendapatkan kesembuhan setelah terus-menerus mengulangi bagian Tuhan oh Tuhan dengarlah keluh kesahku/ Indahkanlah ratap serta tangisku/ Bawalah daku ke Sion/ ke tempat Engkau berkanjang/
Edison Alfa Bangu yang bekerja di Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, mengaku, berbagai mukjizat dialami istrinya Sipriana Maria Theresia Bagi Padre Marco sendiri setelah mendengarkan, menyanyikan, membatinkan lagu tersebut.
Elizabeth Ugut juga mengaku sangat dikuatkan saat mendengar lagu Bawa Daku ke Sion di tengah duka atas kepergian tantenya pada 1999. Saat itu, jelas Elizabet, hatinya benar-benar terangkat oleh lagu tersebut. Ia bisa pasrah kepada Tuhan dan berdoa.
Bagi Suster Celestine ADM (Amal kasih Darah Mulia), Kepala Sekolah (TK-SMA) Serafine Bhakti Utama di Gombong, Jawa Tengah, lagu Bawa Daku ke Sion yang dikenalnya sejak kecil itu sangat menyentuh hati, dan pas untuk mengungkapkan perasaan.
“Saya bisa mengungkapkan apa adanya di hadapan Tuhan, saya yang hina dan rapuh. Tuhan selalu menggenggam tangan saya, membimbing saya ke bukit Sion. Saya bisa mengungkapkan kejujuran hati,” jelasnya.
Penguatan juga diperoleh Celestine atas berpulangnya sang ibu. “Mama dipanggil Tuhan dan saya merasa tidak siap. Tapi mengingat lagu itu saya yakin bahwa mama dibawa ke Sion ke rumah Tuhan, lagu itu menguatkan dan menyembuhkan hati sehingga saya bisa menerima,” ujarnya.
Predikat Summa Cum Laude
Di balik karya musik yang begitu membekas di hati umat, Padre Marco memiliki perjalanan akademik yang mengesankan. Ia meraih gelar doktor Teologi Fundamental dengan predikat Summa Cum Laude dari Universitas Leopold Franzens, Innsbruck, Austria, pada 2002.
Setelah ditahbiskan sebagai imam Serikat Sabda Allah (SVD) di Sankt Gabriel, Wina, pada 3 Mei 1997, ia terus menekuni bidang dialog antaragama hingga dipercaya melayani di Vatikan.
Sebagai pejabat Dikasteri untuk Dialog Antarumat Beragama, Padre Marco terlibat dalam membangun relasi Gereja Katolik dengan berbagai komunitas agama di dunia.
Tugas itu mencakup penyelenggaraan dialog internasional, pengembangan kerja sama lintas agama, hingga penyusunan berbagai kajian dan kebijakan yang mendukung terciptanya perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, serta persaudaraan universal.
Dalam dunia yang kerap diwarnai konflik atas nama agama, kehadiran seorang putra Indonesia di posisi strategis tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Awal Agustus ini, Padre Marco kembali ke kampung halamannya di Lewouran untuk merayakan ulang tahun bersama keluarga dan umat. Selain memimpin misa syukur, ia juga dijadwalkan mengunjungi sekolah dan asrama binaannya serta menyerahkan relikui Santo Petrus dari Vatikan kepada Gereja Santo Petrus Lewouran.
Lagu Bawa Daku ke Sion yang ia tulis lebih dari tiga dekade lalu masih terus dinyanyikan hingga kini, melintasi generasi dan berbagai situasi kehidupan. Lagu itu menjelma menjadi doa bersama jutaan dalam perjalanan mereka di dunia menuju”Sion”.

