Wed. Apr 1st, 2026

DPP PATRIA Audiensi dengan Dirjen Bimas Katolik: Menuju Pelantikan dan Refleksi Nasional PATRIA

Saat DPP PATRIA beraudiensi dengan Dirjen Bimas Katolik di Jakarta. (Freddy)

JAKARTA-Langit Jakarta tampak bersih pada Selasa pagi, 31 Maret 2026. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sebuah pertemuan berlangsung dalam suasana hangat namun sarat makna.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (PATRIA), Agustinus Tamo Mbapa—yang akrab disapa Gustaf—beraudiensi dengan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Suparman.

Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan formal. Ada semangat, harapan, dan juga undangan penting yang dibawa Gustaf dan rombongannya. Di balik jabatan dan agenda organisasi, terselip misi yang lebih luas: merajut kembali peran alumni Katolik dalam percakapan besar bangsa.

Dalam audiensi itu, Gustaf menyampaikan maksud kedatangannya: mengundang Dirjen Bimas Katolik untuk hadir dalam pelantikan DPP PATRIA periode 2025–2030, yang akan dirangkaikan dengan Refleksi Nasional 2026. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11 April 2026 di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan RI, Jakarta.

Gustaf menjelaskan bahwa Misa pelantikan akan dipimpin oleh oleh Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC bersama Yohanes Wahyu Prasetyo dan para imam lainnya.

“Misa pelantikan dipimpin Ketua KWI,” tutur Gustaf, menegaskan bahwa momentum ini akan menjadi fondasi spiritual bagi kepengurusan yang baru.

Di titik ini, pelantikan tak lagi sekadar seremoni organisasi. Ia menjadi peristiwa iman, ruang refleksi, sekaligus peneguhan panggilan. Bersama Yohanes Wahyu Prasetyo dan para imam lainnya, misa itu diharapkan menjadi titik berangkat yang jernih dan kuat.

PATRIA tampaknya tak ingin berhenti pada ritual. Mereka melangkah lebih jauh—membuka ruang dialog melalui Refleksi Nasional 2026. Tema yang diangkat pun tidak ringan: “Sistem Politik, Ekonomi, Budaya, Ekologi, SDM dan Peran Pers Menuju Indonesia Emas 2045.”

Tema ini seperti cermin dari kegelisahan sekaligus harapan. Indonesia sedang bergerak menuju satu abad kemerdekaan, namun jalan ke sana tidak sederhana. Politik yang sehat, ekonomi yang adil, budaya yang hidup, ekologi yang lestari, serta peran media yang bertanggung jawab—semuanya menjadi kepingan puzzle yang harus disusun bersama.

Gustaf menyadari hal itu. Karena itu, ia membayangkan forum ini sebagai ruang temu lintas sektor. Pemerintah, legislatif, akademisi, pelaku usaha, hingga insan pers akan duduk bersama, tidak sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan.

Bahkan, undangan telah dilayangkan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk membuka acara tersebut. Kehadiran kepala negara diharapkan menjadi penanda bahwa diskursus ini bukan hanya milik satu kelompok, tetapi bagian dari percakapan nasional yang lebih besar.

“Kami berharap forum ini menjadi ruang diskursus nasional yang kredibel dan berdampak,” ujar Gustaf. Sebuah harapan yang sederhana, namun sarat tantangan.

Di sisi lain meja, Suparman menyambut gagasan itu dengan nada optimistis. Ia tidak hanya memberikan ucapan selamat atas kepemimpinan Gustaf, tetapi juga menaruh harapan besar pada para alumni PMKRI yang kini berhimpun dalam PATRIA.

Baginya, alumni bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan energi masa depan. Ia berharap mereka terus hadir dan berkontribusi—tidak hanya bagi Gereja, tetapi juga bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Hadir mendampingi Suparman, Salman Habeahan dan Reginaldus Saverinus Sely Serang, sementara di sisi Gustaf tampak Friederich Batari bersama jajaran panitia lainnya. (tD)

Related Post