Wed. Feb 25th, 2026
Andre Graff

Di sebuah senja yang berdebu di Pulau Sumba, angin berembus pelan menyisir bukit-bukit kapur di Lamboya. Matahari turun perlahan, memantulkan cahaya keemasan pada payau keruh di dataran rendah—tempat manusia, kerbau, dan babi berbagi air yang sama.

Dua puluh satu tahun lalu, seorang lelaki asing berdiri dan dengan sorot matanya yang tajam menyoroti pemandangan itu. Namanya Andre Graff. Ia datang dari Prancis sebagai turis. Seorang mantan pilot dan instruktur balon udara panas, dengan hidup mapan dan nyaman. Namun sore itu, kenyamanan terasa seperti sesuatu yang jauh dan tidak berarti.

Yang ia lihat bukan sekadar bukit tandus. Ia melihat ibu-ibu memanggul ember berisi sepuluh liter air payau di atas kepala, menapaki jalan zig-zag berbatu tajam.

Ia melihat anak-anak kecil tertatih mengikuti langkah ibu mereka. Ia melihat seorang perempuan tua—Ina Peda—tersenyum lebar memperlihatkan gusinya yang ompong, seolah hidup tak pernah kejam padanya. Padahal hidup begitu keras.

Andre mencoba berjalan menyusuri jalan terjal itu tanpa membawa beban. Nafasnya terengah. Betisnya gemetar. “Bagaimana mungkin mereka melakukannya setiap hari, dengan air di kepala mereka?” gumamnya dalam hati.

Malamnya, ia berbaring di lantai bambu sebuah Umma Adat. Tanpa kasur. Hanya tikar pandan tipis. Dari atap alang-alang terdengar bunyi serangga menggigiti bambu, serpihan halus jatuh ke kulitnya yang berkeringat. Tak ada AC. Tak ada kipas. Hanya gelap, panas, dan suara alam.

Tetapi yang membuatnya sulit tidur bukanlah serangga.

Wajah putri-putri Niga—pengurus rumah tempat ia tinggal—terbayang di pelupuk matanya. Bayangan mereka yang memanggul air, yang tertawa meski letih, yang tetap menyambut pagi tanpa keluhan.

Malam itu, di antara dengung serangga dan bunyi kayu retak, sebuah keputusan lahir.

Ia tidak akan pulang sebagai turis.

Padang yang memanggil dengan jernih.

Tahun-tahun berikutnya, Andre kembali. Bukan membawa koper liburan, melainkan membawa tekad. Ia meninggalkan kenyamanan hidupnya di Prancis. Ia memilih menjadi “orang kampung”. Makan seadanya. Tidur di lantai bambu. Berkeringat di bawah matahari Sumba.

Ia belajar menggali tanah kapur yang keras. Tangan yang dulu terbiasa memegang kendali balon udara, kini memegang linggis dan cangkul. Ia menjadi tukang gali sumur.

Orang-orang sempat heran. “Orang bule ini gila,” bisik sebagian. Tetapi Andre tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan lubang-lubang di tanah yang perlahan berubah menjadi sumber kehidupan.

Satu sumur. Dua sumur. Lima sumur.

Hingga delapan belas tahun berlalu, empat puluh dua sumur berdiri di berbagai kampung. Sepuluh di antaranya dilengkapi pompa tenaga surya—air ditarik naik ke penampung di ketinggian, lalu mengalir ke rumah-rumah.

Suatu pagi di Waru Wora, seorang anak perempuan memutar keran kecil di teras rumahnya. Air jernih mengalir deras. Ia tertawa, menadahkan tangan, membasahi wajahnya. Ibunya tidak lagi harus turun ke payau. Tidak lagi berbagi air dengan ternak.

Air itu bukan hanya untuk minum. Air itu menjadi sayur di kebun. Menjadi ternak yang sehat. Menjadi sabun yang berbusa di tangan anak-anak. Menjadi martabat.

Dan yang lebih indah, warga mulai menggali sumur mereka sendiri. Mereka melihat contoh. Mereka percaya: jika tanah ini bisa ditembus oleh orang asing, apalagi oleh mereka yang lahir darinya.

Pada 6 Januari 2023, Andre berdiri lagi di antara sumur-sumur itu. Rambutnya lebih memutih. Wajahnya lebih keriput. Namun matanya tetap menyala.

Ia mengunjungi satu per satu sumur yang pernah ia gali. Mengecek pompa. Mendengar cerita warga. Ia tidak ingin karyanya hanya menjadi monumen. Ia ingin keberlanjutan. Ia ingin anak-anak muda Sumba mengambil alih.

“Tenaga saya tidak cukup,” katanya suatu sore kepada sekelompok pemuda. “Air ini harus kalian jaga. Kalian kembangkan.”

Seorang pemuda menunduk, lalu berkata pelan, “Om Andre bukan orang Sumba, tapi lebih Sumba dari kami.”

Andre tersenyum. Baginya, menjadi orang Sumba bukan soal lahir di tanah itu. Tetapi soal mencintai tanah dan manusianya dengan seluruh diri.

Ia tidak pernah meminta imbalan. Satu-satunya pamrihnya adalah melihat perempuan-perempuan tidak lagi memanggul air sejauh bukit. Melihat anak-anak bisa mandi tanpa rasa bersalah. Melihat senyum Ina Peda—atau siapa pun yang serupa dengannya—tak lagi menyimpan lelah yang terlalu dalam.

Delapan belas tahun. Empat puluh dua sumur.

Tetapi sesungguhnya, yang ia gali bukan hanya tanah kapur.

Ia menggali harapan.

Dan di setiap tetes air yang jatuh ke ember-ember bersih di teras rumah warga Sumba, ada jejak seorang lelaki dari Prancis yang memilih menjadi saudara.

Bukan karena darah.

Melainkan karena cinta.

Related Post