Sat. Feb 14th, 2026
Berbagi kesaksian iman dan energi di hadapan para profesional Katolik. (ist)

Kesaksian iman Sherly Laos di hadapan Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Denpasar

Ruang pertemuan itu hening. Bukan karena tidak ada kata-kata, melainkan karena setiap kata yang diucapkan mengandung luka, iman, dan keberanian untuk tetap percaya.

Di hadapan para profesional dan usahawan Katolik Keuskupan Denpasar, Gubernur Maluku Utara itu tidak tampil sebagai pejabat dengan protokoler yang kaku.

Ia hadir sebagai seorang ibu. Seorang istri yang pernah kehilangan. Seorang perempuan yang belajar mengenal Tuhan bukan hanya dalam keberhasilan, tetapi terutama dalam kehancuran.

“Sebelum saya menjadi gubernur, saya hanya ibu rumah tangga,” ucapnya pelan.

Tak ada ambisi politik dalam mimpinya dulu. Hidupnya sederhana. Ia mengurus keluarga, mendampingi suami, menikmati hari-hari tanpa beban besar di pundak. Jika lelah, ia tahu ke mana pulang: kepada keluarga.

Namun 12 Oktober menjadi garis batas yang membelah hidupnya.

Suaminya dipanggil Tuhan dalam sebuah kecelakaan. Malam itu menjadi malam tergelap dalam hidupnya.

“Saya bertanya kepada Tuhan: kenapa? Kami merasa melayani sesuai panggilan-Mu. Tapi kenapa saya harus kehilangan suami?”

Tetap rendah hati

Ia tidak menutupi pergumulannya. Ia marah. Ia menangis. Ia kesakitan—secara fisik dan batin. Dalam kondisi terluka, tanpa daya, ia merasakan kehampaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Di dalam ambulans menuju helikopter, di antara pakaian basah dan ketidakpastian, sebuah kesadaran mulai tumbuh. Saat ia melihat jasad suaminya di dalam terpal, ia mengerti sesuatu yang selama ini mungkin terlalu sering dilupakan manusia:

“Hidup suami saya bukan milik saya. Hidup saya pun bukan milik saya.”

Segala yang kita sebut milik ternyata hanyalah titipan.

Ia bisa memilih untuk pahit. Ia bisa memilih untuk menyalahkan Tuhan. Tetapi ia mengambil keputusan yang tidak mudah—ia memilih percaya, sekalipun tidak mengerti.

“Saya memilih untuk tidak mengizinkan kepahitan tinggal di hati saya.”

Pilihan itu bukan keputusan satu malam. Itu adalah proses. Proses menerima. Proses berdamai. Proses menyerahkan kembali kepada Tuhan apa yang sejak awal memang milik-Nya.

Doa yang Tidak Pernah Putus

Dalam kesibukannya sebagai pemimpin daerah, ia tidak memiliki banyak waktu untuk menyepi lama. Namun ia menemukan cara yang sederhana dan dalam: berbicara dengan Tuhan sepanjang hari.

“Sebelum saya naik ke sini, saya berdoa dalam hati: Tuhan, berikan saya hikmat.”

Baginya, doa bukan sekadar rutinitas religius. Doa adalah napas. Dalam tekanan, dalam keputusan sulit, dalam kebahagiaan, dalam kritik—ia berbicara kepada Tuhan seperti seorang anak kepada Bapanya.

Ia percaya, ia sampai di titik ini bukan karena kemampuannya semata, melainkan karena perkenanan Tuhan.

Dan di situlah letak ketakutannya yang terdalam.

“Kalau saya kehilangan nurani dan integritas, saya tahu Tuhan akan meninggalkan saya.”

Kalimat itu meluncur tanpa nada dramatis. Justru karena diucapkan dengan tenang, ia terasa semakin kuat.

Politik, Kekuasaan, dan Hati yang Harus Dijaga

Ia sadar dunia politik bukan ruang yang lembut. Kepentingan saling bertabrakan. Tekanan datang dari berbagai arah. Godaan untuk berkompromi selalu ada.

Tetapi ia memegang satu prinsip: satu kompromi kecil bisa melahirkan kompromi berikutnya.

“Sekali kita mulai berkompromi, kita bisa kehilangan kebebasan kita.”

Ia mengaku terus mengkalibrasi hati. Karena ia tahu, kesalahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Kadang ia berawal dari hati yang mulai iri, mulai marah, mulai merasa paling benar.

“Hati itu lebih sulit dijaga daripada perkataan,” katanya.

Ia percaya damai sukacita adalah indikator. Jika damai hilang, ada yang salah. Jika hati mulai gelisah, mungkin ia sedang melenceng dari nilai yang Tuhan titipkan.

Dalam setahun kepemimpinannya, ia menyaksikan bagaimana pertolongan datang di saat yang tepat—orang-orang baik hadir, solusi muncul, bantuan mengalir. Ia tidak menyebutnya kebetulan.

Ia menyebutnya perkenanan Tuhan.

“Selama motivasi saya benar dan hati saya bersih, Tuhan kirim orang-orang terbaik pada waktunya.”

Humble to God

Di akhir kesaksiannya, ia membagikan satu kalimat sederhana namun dalam: humble to God.

Saat berada di titik terendah, manusia mudah berseru kepada Tuhan. Tetapi ketika berada di puncak, hati sering lupa bersujud. Kerendahan hati sejati bukan hanya ketika menangis, tetapi juga ketika berhasil.

“Hidup ini bukan tentang berapa kaya kita atau seberapa populer kita,” ujarnya.

“Hidup ini berhasil ketika kita berdampak dan setia sampai akhir.”

Ia tahu jabatan bisa berakhir. Popularitas bisa pudar. Tetapi karakter—itulah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Di hadapan para profesional dan usahawan malam itu, ia tidak menawarkan teori kepemimpinan yang rumit. Ia menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: menjaga hati.

Karena bagi dirinya, kehilangan jabatan tidak seberapa. Kehilangan suami sudah pernah ia alami. Tetapi kehilangan perkenanan Tuhan—itulah yang paling ia takuti.

Dan selama nurani serta integritas tetap dijaga, ia percaya satu hal: Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. (tD/Channel Alfons Kolo)

Related Post