Fri. Jul 3rd, 2026
Mereka datang membawa sesuatu yang sering kali justru paling dibutuhkan oleh manusia yang menderita: kehadiran.

Di Gaza, suara ledakan telah terlalu lama menggantikan tawa anak-anak. Rumah-rumah berubah menjadi puing, rumah sakit lumpuh, sekolah kehilangan murid-muridnya, dan ribuan keluarga hidup dalam ketidakpastian.

Di tengah lanskap yang dipenuhi luka itu, dua pemimpin Gereja datang bukan membawa pasukan, bukan pula membawa proposal perdamaian. Mereka datang membawa sesuatu yang sering kali justru paling dibutuhkan oleh manusia yang menderita: kehadiran.

Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, bersama Patriark Ortodoks Yunani Yerusalem, Theophilos III, melakukan kunjungan pastoral bersama ke Gaza pada 22–23 Juni. Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di tengah perang yang belum juga usai, langkah kedua patriark menjadi kesaksian bahwa Gereja tidak meninggalkan umatnya.

Tidak Pernah Meninggalkan Anda

Di hadapan komunitas Kristen yang jumlahnya terus menyusut akibat konflik, mereka menyampaikan pesan sederhana namun menguatkan, “Kami tidak pernah meninggalkan Anda, dan Anda tidak akan pernah ditinggalkan.”

Kalimat itu terdengar seperti pelukan bagi mereka yang setiap hari hidup dalam ketakutan.

Anak-anak Gaza merindukan kedamaian dan ketentraman.

Kunjungan bersama ini juga menjadi simbol indah persatuan Gereja. Di saat dunia sering kali terbelah oleh perbedaan politik, suku, bahkan agama, Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks berdiri berdampingan untuk melayani mereka yang menderita. Bukan identitas gerejawi yang ditonjolkan, melainkan kasih Kristus yang melampaui sekat-sekat manusia.

Perjalanan mereka dimulai dari Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius, kemudian berlanjut ke Paroki Keluarga Kudus, satu-satunya paroki Katolik di Gaza.

Di sana, Kardinal Pizzaballa memimpin Misa dan mengingatkan umat bahwa penderitaan tidak boleh memadamkan panggilan untuk hidup sebagai murid Kristus.

“Perang tidak membebaskan kita dari menghidupi Injil.”

Kalimat itu bukan sekadar ajakan moral. Di tengah situasi ketika balas dendam terasa lebih mudah daripada mengampuni, ketika putus asa tampak lebih masuk akal daripada berharap, Injil justru dipanggil untuk bersinar paling terang.

Selama dua hari, kedua patriark mengunjungi para imam, biarawan-biarawati, keluarga-keluarga Kristen, para pengungsi, hingga korban krisis kemanusiaan. Mereka datang sebagai gembala yang mendengarkan tangisan umatnya. Mereka berdoa bersama, berbincang secara pribadi, dan menguatkan mereka yang hampir kehilangan harapan.

Kunjungan itu juga menghasilkan langkah nyata. Bersama Ordo Malta, mereka meresmikan sebuah klinik kesehatan baru. Di wilayah yang sebagian besar rumah sakitnya rusak atau berhenti beroperasi, fasilitas sederhana itu menjadi tanda bahwa belas kasih tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Namun, di antara semua perjumpaan itu, perhatian Kardinal Pizzaballa paling besar tertuju kepada anak-anak.

Banyak Melihat Kengerian

Saat menghadiri wisuda 24 murid taman kanak-kanak Patriarkat Latin, ia menyampaikan kalimat yang mungkin akan dikenang dunia.

“Anak-anak yang telah melihat begitu banyak hal mengerikan perlu bertemu kembali dengan keindahan.”

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan puitis. Itu adalah panggilan bagi dunia. Anak-anak Gaza terlalu dini mengenal suara rudal, kehilangan orang tua, dan kehidupan di kamp pengungsian.

Mereka membutuhkan lebih dari sekadar makanan dan obat-obatan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali bermimpi, bermain, belajar, dan percaya bahwa hidup masih layak dijalani.

Karena itu, menurut Kardinal Pizzaballa, membangun Gaza tidak cukup hanya dengan mendirikan kembali gedung-gedung yang hancur. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kembali hati manusia yang terluka.

Pesan yang sama ia bawa ketika berbicara di Universitas Al-Azhar Gaza dalam forum dialog antaragama. Di hadapan para mahasiswa, ia mengingatkan bahwa perdamaian tidak akan lahir dari kebencian.

“Kebencian lebih berbahaya daripada pengeboman karena melahirkan kekerasan baru.”

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa bom memang dapat menghancurkan kota, tetapi kebencian dapat menghancurkan generasi. Karena itu, dialog, saling menghormati, dan nilai-nilai kemanusiaan harus terus dipelihara, bahkan ketika perang masih berlangsung.

Cinta dan Keinginan untuk Hidup

Di penghujung kunjungannya, Kardinal Pizzaballa mengucapkan kalimat yang merangkum seluruh makna perjalanan itu. “Gaza bukan hanya perang, tetapi juga cinta dan keinginan untuk hidup.”

Barangkali di situlah letak kekuatan Gereja. Bukan pada kemampuannya menghentikan perang seketika, melainkan pada kesediaannya tetap hadir ketika dunia mulai berpaling. Ketika sorotan media bergeser ke konflik-konflik lain, Gereja tetap tinggal bersama mereka yang menangis.

Di tengah puing-puing Gaza, dua patriark telah menunjukkan bahwa harapan bukanlah optimisme yang naif. Harapan adalah keberanian untuk tetap datang, tetap mengasihi, tetap melayani, dan tetap percaya bahwa terang Kristus tidak pernah dapat dipadamkan oleh gelapnya peperangan.

Selama masih ada kasih, selama masih ada orang yang rela hadir bagi sesamanya, Gaza belum kehilangan masa depannya. (aleteia/tD)

Related Post