NABI YUNUS: PIKIRAN SEMPIT

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Salam dari Biara Santo Alfonsus, Roma, Italia

Kita sering mendengar tentang Nabi Yunus dan kisah ajaibnya tetap hidup walau dikurung dalam perut ikan selama tiga hari. Bacaan Pertama hari ini berbicara tentang Nabi Yunus.

Yesus pun sangat kenal kisah ini bahkan menganalogikan kematiannya selama tiga hari dengan pengalaman Yunus dalam perut ikan paus (Mat 12:40)

Hal yang paling menarik dari kisah nabi Yunus adalah pertobatan orang-orang Ninive, sebuah bangsa asing non Yahudi. Seruan Yunus kepada mereka hanya berisi satu kalimat singkat.

“Empat puluh hari lagi maka Ninive akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4).

Inilah satu-satunya kalimat seruan Yunus kepada orang-orang Ninive. Tidak ada pengantar, alasan, atau seperti apa malapetaka yang akan datang. Satu kalimat pendek yang datang bagai petir.

Anehnya, dengan seruan singkat ini, dari seorang asing entah darimana, Raja Ninive langsung memberi perintah pertobatan massal. Hasilnya hukuman Allah batal.

Mengapa kalimat singkat dari seorang Yunus yang bukan siapa siapa bisa begitu ampuh pengaruhnya?

Alasan paling mendasar mengapa mereka percaya Yunus adalah karena PENGALAMAN PRIBADINYA. Dibuang ke laut, ditelan ikan, hidup selama tiga hari tiga malam dalam perut ikan, lalu dimuntahkan kembali dan hidup normal seperti biasa.

Ini adalah pengalaman yang efeknya jauh lebih kuat dan berbicara daripada kata-kata yang panjang. Orang-orang Ninive sangat yakin bahwa ini karya ilahi dalam diri Yunus. Karena itu kata-katanya pasti benar karena datang dari Yang Ilahi.

Pengalaman inilah yang sesungguhnya menjadi kunci refleksi kita. Yunus awalnya mempunyai pikiran sempit. Dia tidak peduli bangsa lain. Dia menolak diutus karena bangsa Ninive adalah orang kafir. Tapi Allah mempunyai rencana sendiri dan mengasihi orang-orang Niniveh.

Pengalaman Yunus adalah pengalaman seorang pribadi yang “diulik” Tuhan atau diperalat Tuhan. Walau dia tak menyadari maksud Tuhan di balik itu semua, tapi akhirnya menjadi tanda yang mengubah hidup orang lain juga.

Seringkali pengalaman hidup kita bisa menjadi tanda yang jauh lebih besar dan kuat pengaruhnya ketimbang kata-kata. Apalagi jika pengalaman itu terkait relasi dengan Allah sendiri atau pengalaman iman. Kita tidak harus tahu alasannya mengapa karena rancangan Allah bukan rancangan kita.

Pengalaman relasi dengan Tuhan hampir pasti membawa kita menjadi pribadi yang terbuka dengan siapa saja. Persis seperti pepatah umum: Jika kita bukan saudara dalam iman, kita pasti saudara dalam kemanusiaan. Karena kita adalah satu kewargaan yakni warga Kerajaan Allah; terlepas disadari atau tidak, diakui atau tidak. Menjadi pribadi yang pluralis dan inklusif lalu merupakan sebuah keniscayaan.

***

Ada empat alasan mengapa orang tidak dapat menangkap ikan: (1) Beberapa orang menggunakan umpan yang salah. (2) Ada orang yang memancing di danau yang salah, yaitu tidak mengetahui keberadaan ikannya. (3) Ada orang yang mendapatkan umpan yang tepat dan berada di danau yang tepat, namun mereka tidak tahu cara memancing. (4) Lalu ada beberapa orang yang mempunyai umpan yang tepat, dan mereka berada di danau yang benar, dan mereka tahu cara memancing tetapi mereka tidak mau memancing. —

Tuhan Yesus datang bukan hanya agar kita dapat mempunyai Iman kita kepada-Nya, tetapi juga agar kita dapat pergi memancing bersama-Nya. Persoalannya, bukan karena kita salah memilih danau. Airnya penuh dengan ikan. Masalahnya bukan kita salah umpan. Kita mempunyai Injil yang dapat menangkap ikan apa pun. Masalah kita adalah ketidaktahuan dan sikap apatis. Ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa mereka tidak tahu cara mewartakan Tuhan Yesus, dan banyak juga yang tidak mau pergi untuk mewartakan.