Talasi, Perusahaan Manufacture yang Akan Rekrut 1.000 Tenaga Kerja di Sumba

138
Pak Ali (berbaju putih) dalam balutan kain tenun Sumba.

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Kongregasi Redemptoris yang mengundang Talasi untuk menanamkan sahamnya di Sumba, khususnya SBD.

Siang ini (19/12/22), kabarnya Gubernur  NTT, Victor Laiskodat dan rombongan Bupati serta pejabat Pemda se-NTT, termasuk juga dari Jakarta akan berkunjung ke Talasi.

Ini merupakan kunjungan kedua  Gubernur NTT ke Talasi. Katanya, di situ akan ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dengan pemilik Alisjahbana Haliman, PT. Talasi.

Saya belum tahu isi, tetapi pasti tidak jauh dari tujuan bersama untuk kesejahteraan rakyat Sumba dan NTT.

Tentu saja ini sesuatu yang menggembirakan. Justru pemerintah Provinsi yang punya kesigapan mengapresiasi dan mendukung apa yang terjadi di kabupaten.

Akatifitas di Talasi

Harapannya ke depan Pemda Kabupaten juga bisa bersikap sama bahkan lebih karena ini ada di wilayahnya.

Talasi, mungkin nama yang masih asing bagi kebanyakan orang di Sumba. Talasi adalah nama sebuah perusahaan manufacture atau pabrik pengolahan komoditi hasil perkebunan berupa jambu mete (cashew nut), kemiri, kopi, serai wangi (citronella) dan kelak berkembang ke jenis komoditi lainnya.

Letaknya di sisi utara Rumah Budaya, Kalembu Nga’a Bongga, SBD. Jika ingin menikmati kacang mete atau susu dari mete dan kopi Sumba kualitas terbaik, datanglah ke Talasi. Ada cafenya juga.

Sekadar informasi, perusahaan induk Talasi bernama PT. Haldin Pacific Semesta di Jakarta, sebuah perusahaan bonafide yang sudah ternama dan punya jaringan ke seluruh Indonesia dan ke lebih dari 40 negara.

Mungkin tidak banyak yang tahu juga bahwa yang memulai kerjasama dengan Talasi adalah Redemptoris. Dengan kata lain, yang mengundang investor untuk menanamkan sahamnya di Sumba, khususnya SBD, ya Redemptoris.

Produk Talasi – tingkatkan nilai ekonomi hasil bumi Sumba.

MoU antara PT. Talasi dan Redemptoris ditandatangani pada tanggal 6 Agustus 2019. Tapi pembicaraan antara saya dan Pak Ali sudah berlangsung lebih dari setahun sebelum sampai pada kesepakatan bersama.

Itulah sebabnya saat ini Talasi mengembangkan usahanya di atas lahan 5 ha milik Redemptoris. Bahkan rumah penelitian dan produksi pertama diberikan secara sukarela untuk dipakai oleh Talasi.

Ini berawal dari keprihatinan bersama; banyak hasil pertanian dan perkebunan di Sumba yang kurang dimanfaatkan. Kalaupun ada yang dijual seperti kacang mete, dijualnya secara gelondongan ke luar Sumba.

Pak Ali ingin memberi nilai tambah apa yang dihasilkan dari bumi Sumba.

Target pabrik ini adalah mengolah hasil bumi asli (origin) Sumba menjadi, entah bahan makanan atau bahan baku lainnya. Saat ini diusahakan produksi jambu mete siap makan dan siap kirim ke Jakarta untuk dikemas lebih baik sebanyak 2 ton dalam seminggu. Seterusnya akan ditingkatkan.

Ini baru jambu mete (cashew nut). Produk lain akan dihasilkan dan pada gilirannya nama Sumba akan dikenal, bukan saja karena kuda, tetapi karena jambu mete, kemiri, kopi, citronella, dan sebagainya.

Lebih dari itu, tenaga kerja dari kalangan masyarakat kecil juga akan terserap. Saat ini sudah lebih dari 200 orang terlibat dalam proses produksi pabrik ini. Mereka bekerja dalam 3 shift, tiap shift 8 jam.

Ke depan akan rekrut seribu tenaga kerja.

Artinya perusahaan beroperasi non stop 24 jam. Ke depan diharapkan pabrik ini akan semakin besar dan bisa menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja.

Target tahun depan, untuk kacang mete misalnya bisa diserap dari petani sebanyak 1.000 ton.

“Kami senang sekali di Sumba sekarang sudah ada pabrik. Kami yang tidak ada ijazah pun bisa kerja setiap hari dan ada penghasilan tetap. Pekerjaannya juga tidak berat-berat, hanya duduk kasih bersih jambu mete selama 8 jam,” komentar salah satu komentar karyawati Talasi.

Saya selalu mengatakan kepada Pak Ali, dengan hadirnya Talasi di sini, di atas lahan kami yang luas totalnya 40 ha, sekarang ada kombinasi komplit dan unik. Di situ berdiri Rumah Budaya-Pusat pelestarian budaya Sumba, juga ada Lembaga Sosial Donders, ada KPA-lembaga Pendidikan awal calon imam-bruder Redemptoris. Sekarang ada PT. Talasi, pabrik yang berorientasi bisnis sekaligus kesejahteraan masyarakat. Dan paling akhir ada biara dan gereja Novena untuk keselamatan jiwa orang beriman.

Gereja Novena masih sedang dalam proses pembangunan, seperti juga gedung-gedung pabrik Talasi.

Selamat Hari Ulang Tahun, NTT. Semoga semakin banyak investor datang ke NTT, bukan saja untuk membangun hotel, tetapi juga investor bidang lainnya.

Salam dari Biara Novena-dekat Talasi, Sumba “tanpa  wa”