ROSE SUNDAY: BERBEDA ITU BERKAT

53

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR

Seorang rabbi Yahudi datang ke Amerika. Dia tinggal di keluarga Kristen. Karena hari ini Natal, dia diajak makan di luar. Masuklah mereka ke restoran China.

Setelah makan, pelayan datang membawa nota tagihan, dengan sepotong kue keberuntungan dan sebuah bingkisan berupa patung Natal terbuat dari kayu. Di situ ada cap “made in India”. Melihat tulisan itu semua tertawa, merasa aneh bahwa orang memberi barang buatan India, biasanya sebaliknya.

Namun, sang Rabbi justru menangis terharu. Katanya: “Sungguh menggembirakan hidup persaudaraan di negara ini. Saya seorang Rabbi Yahudi, diundang makan keluarga Kristen, di restoran China, diberi hadiah Natal oleh seorang Buddha, dan uniknya hadiah Natal ini dibuat seorang Hindu.”

Minggu Adven ketiga ini biasanya disebut Minggu Gembira atau Minggu Gaudete. Simbolnya pada pakaian misa Imam yang berwarna merah mawar. Juga dengan menyalakan lilin adven ketiga yang berwarna merah. Dalam antifon pembukaan misa juga diucapkan: Bergembiralah dalam Tuhan. Kegembiraan ini bersumber dari banyak hal.

Bangsa Israel bergembira ketika dibebaskan dari masa pembuangan Babel selama 60 tahun. Dan itu dilakukan oleh Allah memakai tangan “orang kafir” yakni Raja Cyrus. Tak ada yang lebih membahagiakan selain pulang ke tanah air. Allah justru memakai perbedaan untuk kebaikan umatNya. Yang menciptakan perbedaan itu juga Allah sendiri.

“Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:2).

Pertanyaan Yohanes ini nampak aneh dan membuat orang penasaran. Mengapa dia harus menyuruh murid-muridnya untuk bertanya tentang identitas Mesias Yesus. Bisa jadi dalam diri  Yohanes bersama para muridnya muncul keraguan akan Yesus sebagai Mesias karena tampilan dan sikapnya tidak seperti yang mereka pahami.

Mereka masih menganut konsep Mesias politik dengan kekuasaan senjata dan semangat pembebasan sosial ekonomi. Ketika Yohanes dipenjara oleh Herodes, harusnya Yesus mengambil sikap keras untuk membebaskannya. Nyatanya dia mengajar supaya “berdamai dengan musuh”.

Jawaban dan pilihan sikap Yesus ternyata tidak sembarangan. Dia justru menunjukkan Mesias sejati dalam tindakan yang jauh lebih istimewa: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” (Mat 11:5)

Melakukan sesuatu yang berbeda dari harapan orang banyak bisa jadi berisiko ditolak. Mesias ala Yesus pun demikian.

Tapi justru Mesias yang berbeda inilah yang kelak mendatangkan kegembiraan sejati karena melampaui batas-batas suku, bangsa, ruang dan waktu. Mesias sejati membebaskan semua orang, bukan hanya orang Israel, dalam sejarah yang tanpa batas. Dan itu tetap tidak menghilangkan perbedaan, karena perbedaan adalah kekayaan.

Kegembiraan bisa bersumber dari banyak hal. Termasuk dari hal yang tak terduga, atau yang nampak tidak masuk akal. Bahkan dari perbedaan. Ketika orang mampu melihat perbedaan dengan mata Tuhan maka perbedaan bisa menjadi sumber kegembiraan.

Salam dari Biara Novena MBSM, Kalembu Ngaa Bongga (KNB), Weetebula Sumba “tanpa wa”