KUALITAS IMAN

79

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris

Luciano Pavarotti adalah penerus karismatis dari penyanyi tenor opera legendaris, Enrico Caruso. Dalam otobiografinya, Pavarotti: My Own Story, dia menggambarkan bagaimana dia dilatih oleh seorang maestro hebat, Arrigo Pola.

“Semua yang Pola minta saya lakukan, saya lakukan, – hari demi hari, membabi buta. Selama enam bulan kami tidak melakukan apa-apa selain berlatih vokal,” tulis Pavarotti.

Pavarotti bekerja keras di bawah Pola selama dua setengah tahun dan kemudian bekerja sama kerasnya di bawah Maestro Ettore Campogalliani selama lima tahun lagi.

Akhirnya, setelah menaruh begitu banyak keyakinan dan kepercayaan pada mentornya, Pavarotti membuat terobosan di sebuah konser di Salsomaggiore di Italia Utara. Dalam konser ini dia membuat penonton tergetar dan penampilan itu melambungkan ketenarannya.

Pavarotti kemudian bukan hanya terkenal di dunia opera melainkan juga di dunia musik pop.

Selama hidupnya dia telah menjual lebih dari 100 juta album rekaman lagu-lagunya.

Luciano Pavarotti menaruh kepercayaannya pada guru-gurunya. Injil mengajarkan bahwa kita juga harus menaruh kepercayaan kita pada mentor kita Yesus Kristus.

Injil Lukas 17: 5-10 bertemakan iman. Ketika Yesus meminta para murid-Nya agar menanggapi dengan pengampunan tanpa syarat dan tanpa batas kepada musuh atau penyerang mereka yang menyesal, para murid meminta diberi lebih banyak iman sehingga mereka dapat memenuhi tuntutan ini.

Para murid rupanya kurang percaya akan kuasa pengampunan yang bisa mengubah orang.

Iman ini adalah kepercayaan yang besar kepada Tuhan sehingga mereka dapat mengerjakan mukjizat seperti yang telah dilakukan Yesus; seperti pohon ara yang layu dengan perintah sederhana.

Yesus lalu mengingatkan bahwa kekuatan iman terletak pada kualitasnya, (sedikit tapi mendalam) bukan pada kuantitasnya (tambahkan iman kami).

Yesus memperjelasnya dengan menggunakan perumpamaan tentang biji sesawi dan hamba yang baik untuk membantu mereka memahami perlunya iman yang benar dan penuh kuasa.

Seperti biji sesawi yang kecil, sekecil apa pun iman, jika itu mempunyai kualitas tinggi, pohon pun akan tercabut dan terbanting ke laut.

Kualitas iman yang tinggi berarti menyerahkan semua keyakinan kepada Allah yang benar dan penuh kuasa; total tanpa keraguan!

Permohonan, harapan bahkan mukjizat seringkali gagal terjadi, bukan karena ketidakpercayaan, tetapi karena kurangnya totalitas. Sedikit saja keraguan akan kuasa Allah akan membuat kuasa iman gagal terwujud.

Iman juga bisa dipahami dalam konteks relasi tuan dan hamba. Yesus juga mengajar mereka, bahwa agar Iman menjadi efektif, itu harus dikaitkan dengan ketaatan dan komitmen total — penyerahan aktif kepada Tuhan dengan kesediaan untuk melakukan apa pun yang Dia perintahkan.

Melayani dalam totalitas pengabdian kepada Allah adalah wujud iman yang benar.

Iman tidak selalu berurusan dengan mukjizat atau karya besar. Iman bisa dilihat dalam praktik hidup sehari-hari. Kesetiaan dan pengabdian pada tugas sehari-hari juga bisa menjadi wujud iman, sekecil dan sesederhana apa pun pekerjaan itu.

Dengan cara ini mudah bagi kita bagaimana kualitas iman kita. Kuncinya adalah: Apakah kita setia dalam “melakukan semua yang diperintahkan untuk melakukannya.”

Apakah aku sudah mempunyai cukup iman atau belum?

“Bagi seseorang yang mempunyai iman, tak ada penjelasan yang dibutuhkan. Bagi seseorang yang tidak mempunyai iman, tak ada penjelasan yang mungkin.” (St. Thomas Aquino).

Percakapan Guru dan Murid

“Ikan paus tidak bisa menelan orang,” kata seorang guru di hadapan murid-muridnya. “Meskipun mereka adalah mamalia besar, tenggorokan mereka sangat kecil.”

“Tetapi Alkitab mengajarkan kita bahwa Yunus ditelan oleh ikan paus,” jawab seorang gadis kecil. “Ibuku berkata bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan itu pasti benar.”

“Itu tidak mungkin,” kata guru itu. “Secara fisik tidak mungkin.” “Kalau begitu, ketika saya sampai di Surga, saya akan bertanya kepada Yunus,” kata gadis kecil itu ngotot.

Guru itu menatapnya, tersenyum dan bertanya, “Bagaimana jika Yunus pergi ke Neraka?”  Gadis kecil itu menjawab, “Kalau begitu kamu bisa bertanya sendiri padanya ketika kamu sampai di sana.”

Penulis dalam perjalanan dari Roma ke Pagani, Italia, ziarah di makam Santo Alfonsus de Liguori)