MEMIKUL SALIB

27

T homas More adalah, Chancellor atau PM Inggris ketika Henry VIII menjadi raja Inggris. Henry mempunyai istri Catherine. Dia menceraikan istrinya dan kawin lagi dengan Anna Boleyn. Dia meminta Paus mengesahkan perkawinannya yang kedua tetapi ditolak. Dia lalu mengangkat dirinya menjadi Pemimpin Gereja Inggris, yang kelak dikenal sebagai Geraja Anglikan.  Dia menolak Paus sebagai Kepala Gereja Katolik. Dengan Dekrit “Act of Succession” dia meminta sumpah dan ketaatan seluruh warga negara Inggris.

Thomas More termasuk yang menolak mengakui Raja Henry sebagai Kepala Gereja maupun sahnya pernikahan yang kedua. Sebagai akibatnya dia dipenjara pada tahun 1534. Keluarga termasuk anaknya Margaret memohon kepadanya untuk mengucapkan sumpah mengakui raja Inggris tetapi dia menolak. Tanggal 6 Juli 1535 dia dipenggal. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah: Aku adalah hamba Raja, tetapi Allah tetap yang pertama.

Dia menolak sahabat-sahabatnya yang membujuk dia. Bahkan dia menolak bujukan istri dan putri tercintanya, demi ketaatan kepada Tuhan.

Inilah contoh orang yang menempatkan Allah di atas segala-galanya. Mencintai Allah lebih daripada keluarganya, anak dan istrinya. Inilah yang disebut konsekwensi dari salib dan mengikuti Yesus.

Memikul salib tidak berarti mencari penderitaan. Memikul salib tidak berarti mengagungkan penderitaan.

Yesus memang memikul salib-Nya tetapi tidak berarti Yesus mencari salib-Nya; dia mengambil salib bagi dirinya sendiri karena ketaatan kepada Bapa. Salib ditaruh di pundaknya dan dia memikulnya dengan setia dan dengan cinta dalam ketaatan. Dengan itu Dia mengubah salib yang adalah alat siksaan menjadi tanda penebusan dan kemuliaan.

Bagi manusia, para pengikut Yesus, juga akan ada saatnya berhadapan dengan salib. Bisa jadi salib itu adalah konsekwensi menjadi murid atau pengikut Yesus. Tetapi Yesus tidak datang untuk membuat salib manusia lebih berat, melainkan untuk memberinya makna baru. Salib bukan lagi tanda penghinaan melainkan tanda keselamatan.

Ada ungkapan yang berbunyi:  “Barangsiapa yang mencari Yesus tanpa salib akan menemukan salib tanpa Yesus,”. Dengan kata lain, lebih baik menerima Yesus dengan salib daripada menerima salib tanpa Yesus. Karena ketika seorang memikul salib karena dan bersama Yesus maka pasti Yesus akan membantu meringankan beban salib itu. Dia akan menemukan kekuatan untuk memikulnya.

Pada umumnya “memikul salib” sering disamakan dengan menerima penyakit kronis, kondisi fisik yang menyakitkan, atau hubungan keluarga yang tidak beres. Tetapi “memikul salib”, itu juga mencakup apa yang kita lakukan secara sukarela, sebagai konsekuensi dari komitmen kita kepada Yesus Kristus. Dan itu seringkali tidak mudah.

Hal ini dilandasi oleh semangat yang bebas, dengan tahu dan mau menerima dan menanggung rasa sakit, kesulitan, dan bahkan ejekan yang terkait dengan pilihan-pilihan ini.

Hal macam ini misalnya nampak dalam bentuk integritas dalam diri para dokter, mahasiswa kedokteran, dan apoteker Kristen yang menolak untuk mengambil bagian, dengan cara apa pun, dalam aborsi, bahkan jika mereka mungkin menderita secara profesional. Ada juga orang-orang yang tampil  membela Kristus dan ajaran-ajaran-Nya (bahkan ketika mereka menderita ejekan sebagai akibatnya), di sekolah, tempat kerja, atau dalam keluarga mereka. Ada lagi mereka yang mengorbankan uang dan waktu untuk merawat orang lain dan untuk misi Gereja.

“Menjadi murid” tidak hanya berarti mengikuti Yesus dengan ‘salib’ kita. Ini juga berarti mengungkapkan Kristus yang disalibkan kepada orang lain. Dengan kata lain, melalui perjuangan kita dan sebagai konsekuensi dari Iman, Kristus hadir, bagi kita dan bagi mereka yang melihat kita.” Melalui kita dan dalam diri kita orang bisa melihat Kristus yang tersalib, orang bisa merasakan kehadiran Kristus.

Orang bilang tidak ada makan siang gratis. Apalagi mengikuti Yesus. Ada harga yang harus dibayar.

Salam dari Soekarno Hatta Airport-Cengkareng/penerbangan menuju Roma.