Kemampuan Literasi Anak dengan Mendongeng

144

Yustina Dwi Sukati, S.Pd, Guru SMK Yos Sudarso Kawunganten, Cilacap

D alam    dunia    pendidikan,  beberapa   tahun    terakhir    sering    sekali    kita mendengar kata   literasi,   lebih  tepatnya  semenjak isu  Ujian  Nasional  (UN) akan dihilangkan sebagai penilaian akhir yang menentukan kelulusan setiap peserta didik dari  jenjang   pendidikan  sebelumnya.

Lalu  apa   literasi   itu?  Nasional   Institut   for Literacy   mendefinisikan  literasi    adalah  kemampuan  individu   untuk   membaca, menulis,   berbicara, menghitung, dan  memecahkan masalah pada tingkat  keahlian yang  diperlukan dalam  pekerjaan, keluarga, dan  masyarakat. Literasi  sebenarnya memiliki  arti  yang  luas.

Namun  demikian,  pembudayaan literasi  memiliki  dampak yang   sangat  penting   bagi   peningkatan SDM sehingga dapat memajukan suatu bangsa. Suatu   artikel  mengatakan bahwa berdasarkan rata-rata Indeks   Aktivitas Literasi  Membaca (Alibaca)  yang  disusun oleh  Kementrian Pendidikan dan  Budaya (Kemendikbud) pada  tahun   2019,  hasilnya masih  cukup  membuat miris.  Alibaca Indonesia masih tergolong rendah di mana poinnya  hanya  37,32 dari 100.

Pembudayaan literasi  ini sebenarnya bisa  dilakukan  sejak  dini, bahkan tidak perlu memiliki pendidikan khusus untuk melakukannya. Orang tua yang menanyakan aktivitas anak  selama bermain dengan teman-temannya dan akhirnya  anak bercerita merupakan salah satu contoh pembiasaan literasi.  Lebih  dini lagi, orang  tua  bisa membacakan dongeng atau  cerita  pada anak-anak sejak  mereka masih kecil, bahkan sebelum mereka mampu berkata-kata.

Aktivitas mendongeng ini mempunyai banyak sekali  manfaatnya untuk  anak-anak, diantaranya membantu pengembangan kemampuan  literasi   sejak   dini,  meningkatkan keterampilan pemecahan masalah positif, serta memicu kreativitas.

Aktivitas   mendongeng  yang   dilakukan   sejak   dini  oleh   orang   tua   kepada anaknya sangat  bermanfaat  sekali   untuk   mengenalkan kosakata-kosakata  baru kepada anak,   terutama dilakukan   saat anak   mulai  belajar   berbicara. Anak  yang terbiasa  mendengar  cerita   juga   lebih  cepat  memahami  perintah  dibandingkan dengan yang  tidak  pernah dibacakan cerita.

Keingintahuan anak  tentang suatu hal juga ditunjukkan dengan seringnya anak  menanyakan segala sesuatu yang didengar atau  dilihatnya.  Misalnya,  saat mendengarkan cerita  tentang gajah  yang  berbelalai panjang,  anak   bisa   bertanya  “apa  itu  belalai?”,   “gajah  makan  apa?”,   dan   lain sebagainya. Semakin banyak  kata  yang anak dengar saat orangtuanya mendongeng, semakin baik pula kemampuan bahasa mereka kelak.

Manfaat membacakan dongeng sebelum tidur juga dapat menjadi cara  untuk melatih    kemampuan   berpikir   anak.    Informasi  yang   anak    terima  juga   dapat membantu mengembangkan sisi  kreatif  otaknya karena si  kecil  akan  terpancing untuk  memiliki  rasa ingin  tahu  yang  lebih  dan  lebih lagi. Rasa  keingintahuan atau penasaran ini menjadi cikal  bakal  ketrampilan anak  untuk  memecahkan masalah secara positif.

Imajinasi   memiliki  peranan  penting   dalam  perkembangan  anak.   Imajinasi dapat mendorong si  kecil  berpikir  kreatif  dan  cepat dalam menganalisa sesuatu. Supaya imajinasi anak  dapat berkembang dengan baik, maka orangtua perlu memberikan rangsangan,  yaitu  dengan mendongeng. Tidak  sembarang  dongeng bisa  kita bacakan untuk  anak,  dongeng yang mempunyai nilai positif  yang bisa  kita ceritakan ke anak.

Membuat pembiasaan  baru  memang tidak  semudah  membalikkan telapak tangan, namun jika  hal  tersebut dilakukan  dengan cara  yang  menyenangkan dan tidak  membosankan, tentulah hasilnya akan  sangat membanggakan. Marilah mendongeng  untuk   putra   putri   kita  tercinta,  untuk   penerus  bangsa  yang   siap berjuang membanggakan  nusa  &  bangsa  dengan segudang prestasi  yang  ada. SALAM LITERASI!