Santi, Niatmu Suci, Ingin Ringankan Derita Ayah, Ibu dan Adik-adikmu, tapi Tuhan  Memanggilmu

3354
Santi sangat ingin ringankan beban keluarga. Beristirahatlah dalam damai. (Ist)

“Hidup adalah perjuangan” atau life is a struggle. Begitu kata sebuah ungkapan yang selalu menyertai kehidupan manusia. Kata lainnya, “Perjuangan adalah sisi yang melekat erat pada hidup manusia”.

Ya, manusia memang harus bekerja, sebab kerja adalah salah satu bentuk terpenting pertanggungjawaban atas hidup yang Tuhan berikan kepada setiap manusia.

Adalah Adriana Fitria Susanti Ina, remaja berusia 19 tahun yang terlahir dari sebuah keluarga petani kecil di Pu’u Maliti, Desa Marokota, Sumba Barat Daya, NTT.

Sesungguhnya, dia sangat ingin menyelesaikan sekolahnya pada sebuah sekolah menengah atas, tapi karena keterbatasan ekonomi keluarga, ia mengalami putus sekolah. Sebelum putus sekolah, dia dihadapkan pada kewajiban membayar biaya praktik sebesar 1,6 juta rupiah. Orang tuanya tidak sanggup membayar.

Menyaksikan perjuangan hidup keluarganya yang tidak mudah di kampung dan didorong keinginan yang kuat untuk ikut meringankan beban keluarga, dengan persetujuan keluarga, dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja. PT Mutiara Timur Mitra Perkasa, sebuah jasa penyalur tenaga kerja membantunya.

Setelah sampai di Jakarta dan dipersiapkan seperlunya oleh lembaga  yang menyalurkan, dia bekerja pada sebuah keluarga.

Tentu saja, dia sangat gembira karena dengan itu dia bisa mewujudkan keingnannya untuk membantu orang tua dan adik-adiknya. Dia tidak mau adik-adiknya putus sekolah seperti dirinya.

Setelah sempat bekerja selama dua minggu, sebuah penyakit yang tidak diduga-duga menyerangnya. Terjadi kelumpuhan pada otot tubuhnya mulai dari otot pada kaki. Kelumpuhan otot ini kemudian merambat ke bagian atas tubuhnya sampai ke leher. Hal ini menyebabkan seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak. Beberapa organ dalam tubuhnya kemudia ikut mengalami gangguan. Santi mengalami koma selama tiga minggu lebih.

Sejak awal sakitnya, oleh lembaga penyalurnya, Santi langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan di ICU. Rangkaian pelayanan terbaik telah ia alami dari perusahaan, rumah sakit dan beberapa keluarga dekat dan sahabatnya di Jakarta. Ibu Dewi dari perusahaan setiap hari datang menjenguk dan berkomunikasi dengan pihak rumah sakit dan keluarga. Terima kasih yang tulus untuk Ibu Dewi dari PT Mutiara Timur Mitra Perkasa.

Setelah menjalani perawatan selama 29 hari, pada pukul 20.35 WIB (9/6/22), di hadapan ayahnya dan beberapa keluarga, Santi pergi untuk selamanya tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun kecuali buturan air yang menetes dari matanya. Sore hari pada hari yang sama, Santi mendapkan Sakramen Minyak Suci.

Dari keterangan dokter diperoleh informasi bahwa sebelumnya, Santi sempat mengalami henti jantung sebanyak dua kali. Setelah dipacu oleh tim medis, jantungnya kembali berfungsi.

Pilu Hati Ayah

Ayah Santi yang datang dari Sumba, dengan pilu hati menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan buah hatinya.

Bayangan rangkaian hidup bersama di kampung dengan berbagai lika-likunya serta merta terbayang di pelupuk matanya. Beban hidup dan batin yang berat dia curahkan kepada sahabat bernama Om Melayu. Dan curhatan ini ikut membuat Om Melayu menitikkan air mata.

Sebelum buah hatinya pergi untuk selamanya, berkali-kali di depan anaknya yang tak berdaya, Yosef, nama sang ayah berkata lirih: “Anagu…. Orona ba hiina we toleka da ge ana o, kamma pakalokogu ba kakou tana ata… Bani lolokoma nanno… Mamanowwara langngu takka gu. Mu pande doubangge batta menderita langngu takka. Santi….. Santi…. Rengge kiada ge…. Wale kiada ge ana….”

Jika diucapkan dalam langgam etnis Waijewa, pesan kata-kata tersebut mengiris-iris hati. Menjadi ratapan atas nasib anak dan keluarganya. Dalam bahasa Indonesia, kata-kata tersebut berarti: Karena hidup kita sangat yang susah, kami mengizinkan engkau pergi merantau, sayang. Kami sangat menyayangi engkau. Marahilah kami atas kesalahan kami. Engkau tahu pasti bahwa hidup kita sangat menderita….  Santi….. Santi…. Dengarkan…. Santi…. Santi…. Sahutilah saya ayahmu…”. Air mata Yosef pun jatuh tak tertahankan.

Perjuangan Santi di dunia ini sudah berakhir. Dia pergi membawa serta keinginan membantu ayah, Ibu dan adik-adiknya keluar dari impitan kehidupan. Keingian baik adalah juga doa. Semoga keinginan suci itu selalu dia lantamkan dalam doa-doanya dari sana untuk ayah, Ibu, adik-adik dan keluarga besarnya, agar Tuhan pemilik segalanya menurunkan berkat dan kesejahteraan bagi orang-orang tercinta yang dia tinggalkan.

Selamat pulang, ke pangkuan penciptamu. Beristirahatlah dalam damai bersama Tuhanmu, Tuhan kita bersama.* (Emanuel Dapa Loka)