Syukur atas 48 Tahun Imamat P. Aloysius Deeney OCD

184

“Syukur terbesar dalam hidupku adalah kesetiaan Allah untukku. Bukan saya yang setia tetapi Allahlah yang terlebih dahulu setia kepadaku. Inilah rahmat terbesar Tuhan terhadap saya khususnya selama 48 tahun hidup imamat. Saya hanya bisa taat kepada-Nya, kepada uskup dan kongregasi.”

Sepenggal kalimat di atas diucapkan oleh Pater Aloysius Deeney, OCD saat memberi sambutannya saat perayaan syukur di Biara OCD Gadingan, Sleman Yogyakarta 18 Mei 2022. Meski duduk di atas kursi roda, karena aneka penyakit yang menggerotinya, keceriaan dan kegembiraan terpancar dari wajahnya yang selalu tersenyum manakala diteriaki, “Opa…Opa…”

“Saya berasal dari masa lalu, kalian berasal dari masa depan. Saya tidak bisa ke masa depan bersama kalian. Tetapi kita bisa berada bersama saat ini, di masa kini. Saya berasal dari formasio/didikan lama, kalian berasal dari formasio/didikan baru, tetapi kita tetap berada dalam semangat persaudaraan yang sama, saat ini, di sini.”

Pater Aloysius ditahbiskan sebagai imam projo salah satu keuskupan di Amerika Serikat pada 18 Mei 1974. Ia menjalani hidupnya sebagai imam projo selama delapan (8) tahun. Kemudian ia bergabung dengan Ordo Karmel Tak Berkasut di Amerika Serikat pada tahun 1982. Ia menjalani proses pendidikan awal sebagai seorang biarawan OCD mulai dari masa aspiran, postulan dan novisiat. Setelah mengucapkan kaul pertamanya, ia diutus untuk belajar Bahasa Spanyol sembari mendalami spiritualitas Karmel. Inilah yang mendorongnya menulis buku “Welcome To The Secular Order of Discalced Carmelites” sebagai buku pegangan bagi para awam yang bergabung dalam komunitas OCDS, atau komunitas awam OCD. Dalam bukunya ini, ia tidak hanya mengeksplorasi spiritualitas Karmelit tetapi juga membahas aspek-aspek praktis dari panggilan Ordo Sekuler, dari penegasan tentang calon hingga fungsi dewan komunitas dan peran dan pentingnya aturan dan Konstitusi OCDS.

Putra pertama dari tiga bersaudara ini menjalani hidupnya sebagai imam dan biarawan OCD dengan motto: “Barangsiapa yang meninggalkan segala sesuatu dalam tangan Allah, pada akhirnya akan menemukan segala sesuatu dalam Allah juga.” Inilah semangat missioner yang begitu ia hayati sepanjang hidupnya. Berkat semangat ini, dia mendapat banyak tugas penting dalam kongreasi di Roma dan banyak negara lain. Ia menemukan segala sesuatu yang indah dalam pelayanan misionernya berkat kesetiaan Allah padanya dan juga ketaatannya pada kehendak Allah melalui ordo.

Bersama keluarga Alfred B. Jogo Ena

Jatuh Cinta Dengan Soto

Opa Alo, demikian dia biasa disapa jatuh cinta kepada Indonesia setelah beberapa kali berkunjung ke Indonesia sebagai delegatus Ordo. Lalu selepas menyelesaikan tugasnya di Roma, dia mendapat tugas untuk tinggal di Indonesia seraya membantu ordo dalam mendampingi para biarawan muda OCD dalam belajar Bahasa Inggris. Tetapi sesungguhnya tugas itu diterimanya karena dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan soto Indonesia. “Soto Indonesia” itu enak.

“Saya suka makan. Dan buat saya betah tinggal di Indonesia.” Ungkapnya ketika ditanya oleh penulis di sela-sela ia menikmati soto khusus untuknya pada ramah tamah syukur 48 tahun imamatnya. Ciri seorang misionaris sejati adalah selalu mencintai budaya dan tradisi, terutama dalam hal makanannya. Karena hanya dengan itu bisa membuat seorang misionaris cepat betah dan bisa menjalankan perutusannya dengan gembira dan taat. Bagi Opa Alo, feel at home atau krasan itu yang utama itu ada dalam hati kita. Kalau kita sudah jatuh cinta terhadap suatu negara karena perutusan kita, di situlah kita menemukan roh pelayanan, kita merasa krasan dan tutas melayani.

Bisa jadi pengalaman ini sangat subjektif, tetapi jika kita bertanya kepada para misionaris yang sudah puluhan tahun berada di suatu daerah atau negara, bisa jadi jawabannya hampir senada. Sebab jika tidak mencintai makanan lokal bagaimana mereka bisa bertahan puluhan tahun menjadi misionaris? Kiranya ini juga menjadi salah satu semangat dari motto Pater Alo untuk menempatkan segala sesuatu ke dalam tangan Allah. Berkat Soto, beliau sudah menjadi misionaris di Indonesia selama hampir 10 tahun, meski sekarang kondisinya kesehatannya semakin menurun. Meski ruang geraknya makin terbatas (dengan kursi roda) tetapi spirit atau semangat melayaninya terus berkobar. Inilah teladan yang dia ajarkan kepada para biarawan muda OCD Indonesia, yang pada tahun ini juga akan merayakan 40 tahun kehadirannya di Indonesia.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip hasil wawancara Fr Juan, OCD dengan Pater Alo yang disiarkan melalui Chanel Karmelit Tube. “Kalau nanti Pater meninggal, mau dikuburkan di Amerika atau di sini?” “Di sini” (maksudnya Indonesia). “Saya tidak mau dikuburkan di Bajawa karena terlalu dingin. Saya mau dikuburkan di Kupang. Kalau saya dikuburkan di Bajawa, nanti pada saat kebangkitan saya beku” (karena terlalu dingin). Inilah jawaban seorang misionaris yang telah meninggalkan segala sesuatu (terutama keluarga dan kampung halamannya) dan mengikuti Tuhan yang memanggil dia (termasuk jika harus meninggal di daerah misi). Pelayanan hingga penyerahan diri terakhir adalah semangat ketaatan seorang misionaris yang mau bersyukur atas KASIH SETIA Allah kepadanya sepanjang hidupnya. (Alfred B. Jogo Ena)