TETAP BERNILAI DI MATA TUHAN

87

Oleh Pater Kimy Ndelo, CSsRProvinsial Redemptoris

Seorang pembicara terkenal memulai sebuah seminar dengan mengangkat uang $20. Dia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang ingin memiliki uang $20 ini?” Tangan-tangan diangkat ke atas. Dia kemudian berkata, “Saya akan memberikan $20 ini kepada salah satu dari Anda, tetapi pertama-tama, izinkan saya melakukan ini.”

Dia lalu meremas uang dolar itu sehingga kusut tidak keruan. Dia kemudian bertanya lagi, “Siapa yang masih menginginkannya?” Masih ada tangan-tangan yang terangkat di udara. “Baiklah,” dia menambahkan, “Bagaimana jika aku melakukan ini?” Dia menjatuhkan uang itu ke lantai dan mulai menginjak-injak uang itu dengan sepatunya. Dia lalu memungut uang yang sudah kusut dan kotor. “Sekarang siapa yang masih menginginkannya?” Beberapa tangan terangkat terangkat karena nilai uang itu tidak berkurang. Itu masih bernilai $20.

Petrus adalah murid pertama Yesus, paling senior, termasuk yang paling dekat sekaligus sering dilibatkan dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan Yesus. Dia juga yang paling berani karena mengangkat pedang melawan para penangkap Yesus di taman Getzemani. Akan tetapi dia juga satu-satunya orang yang gagal di momen kritis hidup Yesus. Dia menyangkal Yesus sebagai murid dan pengikut-Nya. Bukan hanya sekali tetapi tiga kali.

Terlepas dari kegagalannya, yang rupanya lahir dari ketakutan sekaligus kebimbangan, dia tetap mempunyai arti di mata Yesus. Yesus yang bangkit dengan cara pandang berbeda melihat Petrus sebagai pribadi yang masih bisa diandalkan. Tapi untuk itu dia harus diuji.

Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus di pantai danau Tiberias. “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21: 15.16.17).

Dua kata “mengasihi” yang pertama Yesus menggunakan bahasa Yunani “agape”. Kata “mengasihi” yang terakhir Yesus menggunakan istilah “philia”. Jawaban Petrus selalu sama, menggunakan kata “philia”.

Agape adalah istilah kasih yang agung, yang biasa digunakan untuk menunjukkan kasih antara Allah kepada manusia atau sebaliknya. “Karena begitu besar KASIH (agape) akan dunia ini…” (Yoh 3:16).

Sementara itu “philia” menunjukkan kasih antar sesama sebagai sahabat atau teman. Sederhananya, dalam bahasa Inggris, bisa diungkapkan demikian: “do you care for me?”

Ketika Yesus menggunakan dua kali kata “agape” jawaban Petrus adalah “philia”. Apa makna di balik ini? Petrus tidak sanggup menjawab dengan “kasih-agape” karena dia baru saja melewati tragedi penyangkalan Yesus. Dia sadar diri bahwa dia tidak sanggup mengatakan “agape”. Dia hanya sampai pada titik “philia”. Ada perasaan tidak layak pada Petrus.

Baru pada pertanyaan ketiga Yesus turun pada level “philia” Petrus. Yesus menggunakan istilah yang sama dengan Petrus. Dan ini yang justru semakin memukul dan mengguncang hati Petrus. Seolah-olah Yesus berkata: “Baiklah Petrus, walau hanya sebagai sahabat, apakah engkau mengasihi Aku?”.

Ini artinya Yesus benar-benar tulus untuk tetap merangkul Petrus dan membuka ruang pengampunan untuk dia. Yesus tetap ingin Petrus menjadi gembala atas domba-domba sekalipun pernah melarikan diri. Dalam rasa ketidak-layakan Petrus, Yesus tetap memberinya tanggungjawab besar bagi kelanjutan karya-Nya di dunia ini.

Sering kali dalam hidup kita, kita merasa hancur dan hancur karena keputusan yang kita buat dan keadaan yang menghadang kita. Kita merasa seolah-olah kita tidak berharga lagi.

Tidak peduli apa yang telah terjadi pada kita, bagaimanapun, kita tidak pernah kehilangan nilai kita di mata Tuhan. Nilai hidup kita bukan berasal dari apa yang kita lakukan atau siapa diri kita, tetapi dari Dia yang memiliki kita! Kita istimewa – jangan pernah lupakan itu!

Di mata manusia mungkin kita terasa tak berharga. Namun di mata Tuhan kita selalu berarti dan berharga. Syaratnya satu: biarkan Dia merestorasi kita.

Salam dari Pastoran Sukamara, Kalteng