Thu. Sep 24th, 2026
Fulton J. Sheen: Kisah Sang Pewarta Injil Modern – Memadukan Kecemerlangan Intelektual dengan Kedalaman Iman

Direktur Eksekutif Archbishop Fulton J. Sheen Foundation mengungkap kehidupan dan warisan Uskup Agung Fulton J. Sheen, seorang pewarta Injil yang masyhur.

Uskup Agung Fulton adalah filsuf, teolog, imam dan uskup, penulis, penggerak karya misi Gereja, sekaligus salah satu pewarta Injil modern yang memanfaatkan radio dan televisi untuk menjangkau jutaan orang.

Ia memadukan kecemerlangan intelektual dengan kedalaman iman dan kemampuan luar biasa dalam menjelaskan kebenaran iman secara sederhana dan jelas.

Di balik pelayanan publiknya, Sheen memiliki kehidupan doa yang sangat kuat. Ia berkomitmen menjalankan Jam Suci setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus. Baginya, satu jam bersama Yesus dalam adorasi bukan sekadar kebiasaan rohani, melainkan sumber kekuatan bagi seluruh karya pelayanannya.

Panggilan sejak kecil

Peter John Sheen lahir pada 8 Mei 1895 di El Paso, Illinois, sebagai anak sulung dari empat bersaudara pasangan Newton dan Delia Sheen.

Karena lebih mewarisi ciri khas keluarga dari pihak ibunya, ia kemudian dikenal dengan nama keluarga ibunya, Fulton.

Dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, Sheen merasakan panggilan menuju imamat sejak usia dini. Ia ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Peoria pada 20 September 1919.

Melihat kemampuan intelektualnya, para pemimpin Gereja mengutusnya ke Eropa untuk melanjutkan studi. Pada 1923, ia meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Katolik Leuven, Belgia.

Pendidikan akademis tersebut, yang berakar pada tradisi filsafat dan teologi Gereja, menjadi bekal penting bagi karya pengajaran dan pewartaannya sepanjang hidup.

Setelah menyelesaikan studi, Sheen ditugaskan sebagai imam rekan di sebuah paroki di pusat Kota Peoria. Di sana, pewartaannya berkembang dan ia menginspirasi banyak orang untuk masuk Gereja Katolik.

Melihat keberhasilannya dalam pelayanan, uskup kemudian mengizinkannya mengajar filsafat dan teologi di The Catholic University of America, Washington, D.C.

Disiplin intelektualnya berjalan seiring dengan kepedulian pastoral yang semakin mendalam. Sheen berusaha menjadikan ajaran Gereja dapat dipahami dan menarik bagi umat awam.

Doa sebagai sumber pewartaan

Sepanjang hidup imamatnya, Sheen menempatkan doa sebagai pusat karya kerasulannya.

Sejak hari penahbisannya, ia meluangkan satu jam setiap hari untuk berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia menyebut waktu tersebut sebagai “saat yang menentukan hari saya.”

Dari keheningan di hadapan Sakramen Mahakudus itulah ia menemukan kekuatan dan wawasan untuk mewartakan Injil.

Sheen adalah pengkhotbah publik yang berani berbicara tentang Yesus. Namun, sebelum berbicara kepada banyak orang tentang Kristus, ia terlebih dahulu berusaha mendengarkan-Nya dalam keheningan doa.

Dari radio ke televisi

Pelayanan publik Sheen berkembang pesat melalui media komunikasi modern.

Pada 1930, ia mulai membawakan The Catholic Hour, program radio yang membawa ajaran Katolik ke rumah-rumah di seluruh Amerika Serikat.

Penalarannya yang jernih, cara bicara yang memikat, dan kehangatan pastoral membuat program tersebut menarik lebih dari empat juta pendengar.

Sheen dikenal mampu menjelaskan persoalan yang sulit dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia menyampaikan kebenaran iman sekaligus memberi pengharapan di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

Karya tulisnya pun berkembang seiring dengan kiprahnya di dunia penyiaran. Dari 66 buku yang diterbitkannya, Life of Christ menjadi salah satu karya yang paling dikenal karena kedalamannya dalam menggambarkan pribadi Yesus dan pesan Injil.

Pada 1950, Sheen mendapat tanggung jawab baru sebagai Direktur Nasional Propagation of the Faith atau Lembaga Penyebaran Iman. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi uskup auksilier Keuskupan Agung New York.

Ia bekerja tanpa lelah, bukan hanya menggalang dukungan bagi karya misi, tetapi juga mengunjungi berbagai wilayah terpencil tempat Gereja sedang berkembang.

Bagi Sheen, melayani Propagation of the Faith merupakan kehormatan karena memberinya kesempatan untuk mengambil bagian dalam karya Gereja di seluruh dunia.

Pada 1951 pula, ia mulai tampil melalui program televisi Life Is Worth Living.

Dengan latar sederhana dan sebuah papan tulis, Sheen berbicara tentang iman, moralitas, penderitaan, keluarga, dan martabat manusia.

Cara penyampaiannya membuat lebih dari 30 juta pemirsa tertarik menyaksikan program tersebut.

Ia menggunakan filsafat, teologi, humor, dan seni bercerita untuk menjangkau bukan hanya umat Katolik, tetapi juga umat Protestan dan Yahudi.

Uskup dan Bapa Konsili

Sheen kemudian berpartisipasi sebagai Bapa Konsili dalam Konsili Vatikan II. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan dua tokoh yang kelak menjadi paus: Uskup Agung Karol Wojtyla dan Pastor Joseph Ratzinger.

Pada 1966, dalam usia 71 tahun, Sheen diangkat menjadi Uskup Rochester, New York.

Ia menjalankan tugas tersebut dengan tekun, terutama dalam mengimplementasikan keputusan Konsili Vatikan II dan mewartakan iman kepada umat.

Sheen pensiun pada 1969 dan kemudian dianugerahi gelar Uskup Agung.

Masa pensiunnya tidak membuatnya berhenti berkarya. Ia terus menulis, berkhotbah, memimpin retret, dan menyediakan waktu untuk berdoa.

Autobiografinya, Treasure in Clay, ditulis tidak lama sebelum wafat. Buku tersebut menggambarkan bagaimana hidupnya—seperti tanah liat di tangan Sang Penjunan—dibentuk oleh Yesus menjadi sarana pelayanan bagi Gereja.

Spiritualitasnya ditempa oleh Salib, Ekaristi, dan Bunda Maria.

Ketika menjalani operasi jantung terbuka pada usia lanjut, ia mempersembahkan penderitaannya dalam persatuan dengan Kristus yang hati-Nya tertikam di kayu salib.

“Anda adalah putra Gereja yang setia”

Dua bulan sebelum wafat, Sheen mendapat kunjungan Paus Santo Yohanes Paulus II saat kunjungan apostolik ke New York.

Meski kondisi kesehatannya sudah lemah, Sheen maju menemui Bapa Suci dan berusaha berlutut di hadapannya.

Paus Yohanes Paulus II segera mengangkatnya, memeluknya, lalu berkata:

“Anda telah menulis dan berbicara dengan baik tentang Tuhan Yesus Kristus. Anda adalah putra Gereja yang setia.”

Bagi Sheen, yang memiliki penghormatan mendalam terhadap para penerus Santo Petrus, kata-kata tersebut menjadi penutup yang indah bagi perjalanan hidupnya dalam pelayanan kepada Kristus dan Gereja.

Uskup Agung Sheen wafat pada 9 Desember 1979 di New York.

Menuju beatifikasi

Proses beatifikasi Sheen dimulai di Keuskupan Peoria pada 2002, tempat ia menerima tahbisan imamat.

Mukjizat yang menjadi dasar beatifikasinya terjadi pada 2010. Seorang bayi yang lahir tanpa detak jantung dan tanpa napas dilaporkan berhasil hidup kembali setelah 61 menit dan kemudian berkembang dalam keadaan sehat.

Mukjizat tersebut disetujui oleh Paus Fransiskus pada 2019.

Paus Fransiskus kemudian menyetujui pelaksanaan beatifikasi Sheen di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat, pada 24 September 2026.

Dari ruang kelas, mimbar gereja, studio radio, hingga layar televisi, Fulton J. Sheen menghabiskan hidupnya untuk satu tujuan: membawa orang semakin mengenal Yesus Kristus.

Dan mungkin, warisan terbesarnya bukan hanya puluhan buku atau jutaan pendengar dan pemirsa.

Melainkan keyakinan bahwa pewartaan yang kuat selalu berawal dari doa yang dalam. (tD/aleteia)

Related Post