Wednesday, November 25, 2020

Puisi-puisi Sultan Musa dari Samarinda

RINDU CENDAWAN aku lelah berbalut letih menulis sepi menjemur gundah aku salah berkalut perih melukis diri melebur kesah masihkah angin mendesir dalam renyah menyisip masihkah embun mendecak dalam hembus menyisir Lalu, menulis 'Tuhan aku rindu cendawan-Mu' #2020 APAKAH  AKU  SUDAH  SIAP  ? Membisu tak beranjak pergi Mungkinkah terpana ? Wujud yang telah kau kira Membentang tanya tak lagi...

WS Rendra: “Maksud Baik Saudara untuk Siapa?”

Jakarta, TEMPUSDEI.ID (14/10) - Situasi yang ingar bingar seputar demonstrasi penolakan UU Omnibus Law yang diikuti oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa, mengingatkan kita pada gelegar puisi legenda dunia susastra Indonesia WS Rendra (alm). Sangat banyak puisi yang ia lahirkan...

Puisi Agust G. Thuru: Darah Merah Darah Putih

Oleh Agust G. Thuru Aku lahir dari tanah leluhur padang luas menikung pada kaki barisan bukit batu ilalang ranggas pada birahinya kemarau debu terbang dari kuku seribu kuda pacuan di situ rahim ibu tempat aku tumbuh untuk sujud Aku tulang-tulang perkasa anak tanah otot-otot liat titisan...

Puisi-puisi Agust G. Thuru bagi Refleksi Kemerdekaan RI

Terjebak Saat engkau diberi kesempatan menggembur tanah gersang menjadi lahan subur menanam kebajikan engkau malah terjebak pesta kenikmatan Tempo hari kau yang janji katakan tidak pada korupsi! eh, janjimu indah semanis hati kini kau berbalik nodai kata hati kau pun terjebak di teras janjimu Setelah kau di tahta rakyat kau pun bersekutu dengan tikus-tikus...

Puisi Tengah Juli, Untukmu Sapardi Djoko Damono

Oleh Alfred B. Jogo Ena Kala hujan bulan Juni Melambung namamu hingga kini Pada tangis bulan Juli Jutaan doa mengiringimu pergi Yang kukenang mata pisau diasah tajam pada kata menghunjam seperti katamu aku ingin mencinta yang melebur pada waktu yang fana hanya nama dan jejak kata lestari selalu Hujan...

Puisi Emanuel Dapa Loka: Pada Malammu, Kapernaum !

Oleh Emanuel Dapa Loka Kapernaum, aku mestinya diam saja dalam hening malam tanpa rembulan ini Tafakur dalam buaian rona cahaya lampu jalanmu Bahkan membeku dalam angin yang merayap dan menyengat kulitku Namun gemilang silammu bersama Tuhanku, Tuhan kita bersama Menyeretku menulis puisi ini Agar kau...

Puisi Agust G. Thuru: Nyanyian Jerit

Oleh Agust G Thuru Jika jangkrik  menjerit biarkan saja tak usah peduli mungkin ia sedang lantunkan  doa dengan cara dan bahasanya yang engkau tak selami Jika kelelawar menjerit biarkan  saja tak usah tanggap mungkin ia sedang birahi pada dunia malam untuk melahirkan anak-anaknya Jika burung hantu menjerit biarkan saja tak usah...

Dalam Sebuah Tarikan Nafas dan Decak Kagum di Kapernaum

Siang itu cuaca di Kota Kapernaum, Israel sangat cerah. Meski begitu, hawa udaranya tetap saja terasa dingin sehingga orang-orang tetap menggunakan jaket, minimal sweater. Di depan gerbang kota ini decak kagumku kembali berbunga. Tentu saja bunga hatiku juga mekar...

Pada Jejakmu Putih, Kepada Penyair Ajip Rosidi

Ajip Rosidi adalah sastrawan senior dan terkemuka milik Indonesia. Dia juga penulis produktif, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage. Ajip lahir di Majalengka pada 31 Januari 1938. Sastrawan yang sangat produktif dan penerima...

Puisi untuk Mikael Umbu Zasa: Langkah Terakhir pada Bulan Bermahkota Mawar

Oleh Emanuel Dapa Loka Link puisi: https://www.youtube.com/watch?v=Ba0bezjsGzI Umbu Zasa, tunai sudah langkahmu memijak bumi tempat kita tinggal, membalik tanah dan meninggal ini Purna sudah perjalananmu dalam tarikan nafas penghabisan pada paruh ketiga Juni, bulan bermahkota mawar Kini tak  akan lagi lincah tanganmu yang menabuh...

TERKINI

TERPOPULER